Sayangnya, harapan itu pupus. Kuota kunjungan ke puncak yang hanya 1.800 orang per hari sudah penuh terisi jauh sebelum mereka sampai.
"Enggak naik, cuman di cawannya aja. Kuotanya udah penuh," ujar Nina, mencoba tersenyum.
Meski gagal, semangatnya tak padam. Ia bertekad untuk kembali suatu hari nanti. Bukan untuk dirinya sendiri, yang sudah pernah merasakan naik ke atas, tapi untuk memberikan pengalaman pertama yang istimewa kepada keluarganya.
"Iya coba lagi, karena anak-anak juga penasaran," tuturnya.
Bagi Nina, Monas lebih dari sekadar tugu. Tempat ini adalah ruang edukasi yang menyenangkan. Bolak-balik datang pun tak pernah membosankan, karena selalu ada cerita sejarah di museum yang bisa diajarkan pada anak-anak. "Seru aja, maksudnya edukasi juga kan, mengenalkan sejarah-sejarah yang ada di museumnya," pungkasnya.
Jadi, meski gagal mencapai puncak, hari itu tetap berkesan. Seperti Monas sendiri, yang tetap berdiri megah menyambut siapa saja, dengan segala cerita yang dibawa setiap pengunjungnya.
Artikel Terkait
Daniel Muttaqien Syaifuddin Resmi Pimpin DPD Golkar Jabar Periode 2025-2030
Pertamina Pacu EBT, Capai 8.743 GWh Energi Bersih Hingga 2025
Inflasi Pangan Maret 2026 Turun, Pemerintah Klaim Berhasil Patahkan Tren Deflasi Pascalebaran
Ribuan Umat Padati Gereja Katedral Jakarta untuk Ibadah Jumat Agung