Yang bikin pusing, rantai pasok makin kacau. Waktu pengiriman bahan baku memburuk ke level terparah dalam lebih dari empat tahun terakhir. Parahnya lagi, semua gangguan ini berbarengan dengan lonjakan biaya. Tekanan inflasi makin nyata, dengan biaya input melambung ke level tertinggi dalam dua tahun. Alhasil, pelaku industri terpaksa menaikkan harga jual dengan laju tercepat sejak pertengahan 2022.
Namun begitu, di balik semua berita kurang sedap ini, ada secercah optimisme. Para produsen masih punya keyakinan bahwa indeks manufaktur RI akan pulih seiring dengan membaiknya permintaan dan yang paling dinanti meredanya konflik di Timur Tengah.
“Perusahaan manufaktur tetap percaya diri bahwa output akan naik pada tahun ini,” kata Usamah Bhatti.
Tapi dia juga mengingatkan, “Data bulan Maret menyoroti kerentanan sektor manufaktur Indonesia terhadap perang, khususnya dari sisi harga dan pasokan.”
Jadi, situasinya memang rumit. Di satu sisi ada harapan, di sisi lain kerapuhan itu nyata. Kita lihat saja perkembangan bulan-bulan mendatang.
Artikel Terkait
Gempa Megathrust 7,6 SR Guncang Bitung, Picu Tsunami Kecil di Beberapa Wilayah
Pemilik SPBE Cimuning Bakal Dipanggil Usai Kebakaran Diduga Akibat Kebocoran
Prabowo Tunjukkan Finger Heart dengan Idola K-Pop di Tengah Perkuat Kemitraan Strategis dengan Korsel
Microsoft Investasikan Rp94 Triliun untuk Cloud dan AI di Singapura