Di sisi lain, optimisme konsumen tampaknya tetap terjaga. Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) pada Februari 2026 berada di angka 125,2, yang masih masuk kategori optimis. Kekuatan ini ditopang oleh perbaikan kondisi ekonomi saat ini dan ekspektasi yang tetap positif ke depan.
"Indeks Ekspektasi Konsumen kita masih kuat, di level 134,4," jelas Budi Santoso.
Upaya pemerintah untuk mendongkrak daya beli sepanjang Ramadan juga disebut berhasil. Lewat program Friday Mubarak dan Belanja di Indonesia Aja (BINA) Lebaran 2026, yang digelar bersama para pelaku ritel, transaksi yang tercipta melampaui target.
Hingga 29 Maret, Friday Mubarak mencatat transaksi Rp126,02 triliun. Diprediksi angka akhirnya bisa tembus Rp129,11 triliun. Sementara BINA Lebaran, dalam periode 6-30 Maret, sudah mencapai Rp54,9 triliun.
Geliat positif ternyata tidak hanya terjadi di pasar konvensional. Dunia e-commerce ikut kebagian rezeki. Selama Ramadan, produk seperti busana muslim, makanan-minuman, hampers lebaran, hingga produk kecantikan laris manis. Estimasi dari E-Commerce Database menunjukkan, total penjualan e-commerce Indonesia pada Februari 2026 bisa menyentuh angka sekitar USD5,76 miliar atau setara Rp96,7 triliun. Angka yang fantastis.
Secara keseluruhan, suasana perdagangan pasca-Lebaran 2026 ini memang mencatatkan tren yang positif. Stabilitas harga dan daya beli yang terjaga menjadi sinyal penting untuk perekonomian ke depan.
Artikel Terkait
Gempa Megathrust 7,6 SR Guncang Bitung, Picu Tsunami Kecil di Beberapa Wilayah
Pemilik SPBE Cimuning Bakal Dipanggil Usai Kebakaran Diduga Akibat Kebocoran
Prabowo Tunjukkan Finger Heart dengan Idola K-Pop di Tengah Perkuat Kemitraan Strategis dengan Korsel
Microsoft Investasikan Rp94 Triliun untuk Cloud dan AI di Singapura