Dia menjelaskan, selain besarnya kobaran dan material yang mudah menyala, sumber air di lokasi juga terbatas. Hal itu memperlambat upaya pemadaman.
Pendapat senada datang dari Kepala Desa Sukamulya, Ikhwan Nur Arifin.
"Api dengan cepat membesar karena di sini banyak bahan-bahan yang mudah terbakar," kata Ikhwan, menggambarkan bagaimana situasi dengan cepat berubah jadi di luar kendali.
Lalu, apa pemicu awal bencana ini? Keterangan sementara dari sejumlah karyawan mengarah pada korsleting listrik. Diduga, kompresor di bagian pengecatan helm yang jadi biang keladinya.
Petugas berjibaku hampir empat jam lamanya. Setelah api bisa dikendalikan, proses pendinginan masih terus dilakukan. Tujuannya jelas: mencegah bara api menyala kembali.
Kabar baiknya, tidak ada korban jiwa dalam peristiwa ini. Namun, kerugian materialnya tidak main-main. Ditaksir mencapai ratusan juta rupiah. Sementara itu, penyelidikan untuk memastikan penyebab pasti masih terus digelar oleh pihak berwenang.
Artikel Terkait
Pertamina Bantah Isu Kenaikan Harga BBM Non-Subsidi Awal April 2026
Indonesia dan Jepang Jajaki Kemitraan Sister Park untuk Konservasi
Indonesia dan Jepang Perkuat Kemitraan Pariwisata dengan MoC Pertama
Nadiem Soroti Penggunaan SPT Pajak Pribadi sebagai Barang Bukti di Sidang Korupsi Chromebook