tegas Fabby.
Mekanismenya begini. Pertalite kan BBM bersubsidi langsung, harganya diatur pemerintah. Nah, selisih antara harga keekonomian dan harga jual eceran itu ditutup lewat kompensasi ke Pertamina. Logikanya, kalau harga minyak dunia naik, nilai kompensasi yang harus dikeluarkan negara otomatis ikut membesar. Jumlahnya bisa luar biasa.
Namun begitu, Fabby melihat ada sisi positif dari penyesuaian harga ini. Selain untuk menjaga kesehatan anggaran negara, langkah ini juga bisa mendorong efisiensi. Konsumsi BBM bisa lebih terkendali dan tepat sasaran, nggak mubazir.
Tapi tentu saja, ada konsekuensinya. Kenaikan harga selalu punya efek berantai, terutama bagi masyarakat kecil. Fabby mengingatkan, pemerintah nggak boleh abai dengan hal ini. Jika kebijakan naik harga benar-benar diambil, harus ada skema perlindungan yang disiapkan untuk masyarakat rentan. Daya beli mereka harus dijaga.
“Penyesuaian bisa dilakukan, tetapi harus diikuti dengan kebijakan kompensasi sosial yang tepat agar kelompok rentan tetap terlindungi,”
pungkasnya.
Jadi, isu kenaikan Pertalite ini bukan cuma soal angka di pom bensin. Lebih dari itu, ini tentang pilihan kebijakan yang rumit di tengah ketidakpastian ekonomi global.
Artikel Terkait
Pelatih Saint Kitts and Nevis Anggap Peringkat FIFA Hanya Angka Jelang Hadapi Indonesia
Arus Balik Lebaran di Terminal Kampung Rambutan Masih Ramai, 2.257 Penumpang Telah Tiba
Arus Balik Lebaran, Ruas Tol Semarang Kembali Diberlakukan One Way Lokal
Korban Tewas Kecelakaan Mudik Lebaran 2026 Turun 30 Persen