Menteri Kebudayaan Fadli Zon punya pesan tegas: masa depan budaya Indonesia ada di tangan anak mudanya. Tapi bukan cuma tugas mereka. Menurutnya, semua pihak harus bergandengan tangan. Kolaborasi lintas generasi dan lapisan masyarakat itu modal utama biar budaya kita nggak punah ditelan zaman.
“Kemajuan kebudayaan hanya bisa kita capai jika kita bekerja bersama, dengan kesadaran bahwa budaya adalah kekuatan dan modal utama bangsa ke depan,” tegas Fadli Zon.
Pernyataan itu dia sampaikan di Surakarta, Kamis lalu, saat membuka Gelar Budaya dan Karya Anak Bangsa di Universitas Sebelas Maret. Acara itu jadi bagian dari peringatan Dies Natalis ke-50 Fakultas Ilmu Budaya UNS.
Fadli melihat Indonesia sebagai negara dengan kekayaan budaya yang luar biasa banyak. Bayangkan, ada ribuan etnis, ratusan bahasa, tradisi lisan, manuskrip kuno, ritus, sampai kuliner tradisional. Semua itu adalah harta. Dan harta, kata dia, harus dijaga. Jangan sampai tergerus.
Di sisi lain, dalam dinamika global yang serba cepat ini, budaya bukan cuma soal identitas. Ia bisa jadi alat diplomasi yang ampuh, bahkan penggerak ekonomi. Fadli yakin Indonesia punya potensi besar untuk menciptakan semacam “Indonesian wave” di panggung dunia. Mirip seperti yang dilakukan Korea dengan gelombang Hallyu-nya.
Namun begitu, langkah ke depan nggak bisa sekadar mengandalkan cara-cara lama. Fadli menekankan pentingnya digitalisasi. Tapi dengan catatan: akar budaya tetap harus kuat tertanam. Dia mengusung tiga prinsip kunci. Pertama, literasi budaya digital yang juga mencakup etika dan hak cipta. Kedua, perlindungan bagi pelaku budaya di era ekonomi digital. Ketiga, penguatan arsip dan database budaya yang komprehensif.
Artikel Terkait
Elf Penuh Pemudik Terjun ke Jurang di Banyumas Usai Hindari Motor, 10 Orang Terluka
Dua Anak Harimau Benggala di Kebun Binatang Bandung Mati Terinfeksi Virus Panleukopenia
Swedia Hadapi Ukraina di Play-off Tanpa Striker Andalan Alexander Isak
KPK Sambut Baik Desakan MAKI agar DPR Bentuk Panja Khusus Usut Penahanan Yaqut