Fadli Zon: Kolaborasi Lintas Generasi Kunci Pelestarian Budaya Indonesia

- Kamis, 26 Maret 2026 | 21:30 WIB
Fadli Zon: Kolaborasi Lintas Generasi Kunci Pelestarian Budaya Indonesia

Menteri Kebudayaan Fadli Zon punya pesan tegas: masa depan budaya Indonesia ada di tangan anak mudanya. Tapi bukan cuma tugas mereka. Menurutnya, semua pihak harus bergandengan tangan. Kolaborasi lintas generasi dan lapisan masyarakat itu modal utama biar budaya kita nggak punah ditelan zaman.

“Kemajuan kebudayaan hanya bisa kita capai jika kita bekerja bersama, dengan kesadaran bahwa budaya adalah kekuatan dan modal utama bangsa ke depan,” tegas Fadli Zon.

Pernyataan itu dia sampaikan di Surakarta, Kamis lalu, saat membuka Gelar Budaya dan Karya Anak Bangsa di Universitas Sebelas Maret. Acara itu jadi bagian dari peringatan Dies Natalis ke-50 Fakultas Ilmu Budaya UNS.

Fadli melihat Indonesia sebagai negara dengan kekayaan budaya yang luar biasa banyak. Bayangkan, ada ribuan etnis, ratusan bahasa, tradisi lisan, manuskrip kuno, ritus, sampai kuliner tradisional. Semua itu adalah harta. Dan harta, kata dia, harus dijaga. Jangan sampai tergerus.

Di sisi lain, dalam dinamika global yang serba cepat ini, budaya bukan cuma soal identitas. Ia bisa jadi alat diplomasi yang ampuh, bahkan penggerak ekonomi. Fadli yakin Indonesia punya potensi besar untuk menciptakan semacam “Indonesian wave” di panggung dunia. Mirip seperti yang dilakukan Korea dengan gelombang Hallyu-nya.

Namun begitu, langkah ke depan nggak bisa sekadar mengandalkan cara-cara lama. Fadli menekankan pentingnya digitalisasi. Tapi dengan catatan: akar budaya tetap harus kuat tertanam. Dia mengusung tiga prinsip kunci. Pertama, literasi budaya digital yang juga mencakup etika dan hak cipta. Kedua, perlindungan bagi pelaku budaya di era ekonomi digital. Ketiga, penguatan arsip dan database budaya yang komprehensif.

Acara di UNS sendiri mengusung tema “Merajut Pelangi Budaya Nusantara”. Rangkaian kegiatannya beragam banget. Mulai dari pertunjukan wayang beber tani, pameran arsip dan keris, gelar seni mahasiswa, sampai pameran UMKM para alumni. Semacam festival yang meriah.

Sementara itu, di ujung barat Indonesia, ada kabar gembira lain. Masjid Raya Baiturrahman di Banda Aceh baru saja ditetapkan sebagai cagar budaya nasional. Kepala Bidang Pemasaran Pariwisata Disbudpar Aceh, Akmal MURIANETWORK.COM, menyambut penetapan ini dengan sukacita.

“Kita sangat bersyukur atas penetapan ini. Penetapan sebagai cagar budaya nasional akan semakin memperkuat Aceh sebagai destinasi religi,” ujar Akmal di Banda Aceh, Kamis.

Dengan status barunya, masjid ikonik dengan 12 payung elektrik raksasanya itu akan dipromosikan lebih gencar. Disbudpar Aceh berencana memasukkannya sebagai destinasi utama dalam paket wisata religi. Termasuk lewat Ramadhan Festival dan atraksi keagamaan lainnya. Libur Lebaran kemarin aja, masjid itu sudah ramai dikunjungi wisatawan yang mau ibadah sekaligus menikmati keindahannya.

Jadi, dari Solo sampai Aceh, upaya pelestarian budaya terus bergulir. Dengan kolaborasi dan adaptasi di era digital, diharapkan kekayaan budaya Indonesia nggak cuma jadi kenangan, tapi benar-benar hidup dan jadi kekuatan bangsa ke depan.

Sumber: Antara

Editor: Handoko Prasetyo

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar