Huang melanjutkan dengan nada yang cukup realistis. "Sekarang, kita melihat banyak sekali perusahaan semacam itu selama era internet, dan sebagian besar situs web tersebut tidak lebih canggih daripada yang dapat dihasilkan OpenAI [atau] Claude saat ini."
Jadi, kemungkinan memiliki perusahaan miliaran dolar yang dijalankan AI itu ada. Syaratnya, jangan berharap kesuksesan itu bertahan selamanya. Dunia startup digital memang penuh dengan kisah naik-turun yang cepat.
Di sisi lain, industri tech sebenarnya masih sibuk berdebat soal definisi AGI yang tepat. Banyak yang mengaitkannya dengan tes kemampuan manusia, misalnya menulis novel yang kualitasnya mengalahkan karya manusia. Tapi bagi Huang, metriknya berbeda. Ia melihatnya dari sudut pandang kapitalistik murni: AGI adalah kemampuan untuk membangun dan menjalankan bisnis bernilai sepuluh digit. Perspektif yang praktis, dan mungkin sedikit kontroversial.
Klaim ini tentu membuka ruang diskusi baru. Apakah tolok ukur kesuksesan AI memang harus se-materialistik itu? Atau justru kita perlu parameter yang lebih manusiawi? Waktulah yang akan menjawab.
Artikel Terkait
Timnas Indonesia Hadapi Saint Kitts and Nevis, Beckham Putra Siap Perjuangkan Tempat
Marshanda Dukung Proses Pencarian Jati Diri Putrinya Lepas Hijab
Justin Hubner Tiba, Pelupessy dan Tjoe A-On Masih dalam Perjalanan Jelang Laga Timnas
Kemnaker Perintahkan Pengawasan Ketat untuk Tuntaskan Aduan THR