Amran Serukan Kolaborasi Saudagar Hadapi Ancaman Krisis Pangan Global

- Kamis, 26 Maret 2026 | 11:00 WIB
Amran Serukan Kolaborasi Saudagar Hadapi Ancaman Krisis Pangan Global

Di Hotel Claro, Kamis lalu, suara Andi Amran Sulaiman menggema di hadapan ribuan hadirin. Sebagai Ketua Umum KKSS sekaligus Menteri Pertanian, ia membuka Pertemuan Saudagar Bugis-Makassar yang ke-XXVI dengan nada seruan yang hangat namun tegas. Intinya satu: ajakan untuk bersatu. Dunia, menurutnya, sedang dihantui bayang-besok krisis energi dan pangan. Nah, di situlah peran mereka, para saudagar yang tersebar di penjuru negeri, menjadi krusial.

“Ayo berkolaborasi saudara-saudaraku,” ujarnya, memecah kesunyian.

“Mumpung saya masih menjabat, ayo teman-teman gubernur dan bupati. Kita punya lahan 870 ribu hektar yang bisa ditanami kakao, kopi, kelapa, lada, mete, dan tebu. Nilai ekspornya bisa mencapai angka Rp9,95 triliun.”

Amran tak sekadar mengajak. Ia juga menunjukkan peta kekuatan yang sudah ada di tangan. Indonesia, ia tegaskan, masih menjadi raja minyak sawit mentah atau CPO di panggung global, dengan pangsa pasar mencengangkan: 60 persen. Artinya, ketergantungan negara-negara pengimpor pada kita sangatlah besar. Bahkan, ia sampai menggunakan istilah yang cukup dramatis untuk menggambarkan situasinya.

Menurutnya, jika Indonesia sampai menutup keran ekspor CPO, maka yang terjadi bisa disebut sebagai “kiamat kecil” bagi negara-negara maju.

“Coba bayangkan,” tambah Amran, mencoba memberikan perbandingan. “Di Selat Hormuz yang ditutup Iran, hanya 20 persen minyak dunia yang lewat. Itu saja sudah bisa memicu ancaman krisis energi. Kalau Indonesia yang menutup ekspor CPO, dampaknya akan jauh lebih besar.”

Di sisi lain, di hadapan sekitar dua ribu saudagar itu, Amran juga membeberkan langkah nyata yang sedang dijalankan kementeriannya. Soal swasembada pangan, ia menyebut cadangan beras pemerintah sudah berada di angka 4,2 juta ton. Sebuah angka yang tak boleh berhenti di situ.

Insyaallah pertengahan April nanti bisa naik jadi 5,1 juta ton. Ini akan jadi capaian tertinggi Indonesia,” pungkasnya penuh keyakinan. “Dan ini bukan cuma untuk kita. Ini ikut berkontribusi menurunkan harga pangan dunia.”

Pesan yang disampaikan jelas. Kolaborasi bukan lagi pilihan, melainkan keharusan. Di tengah ancaman global, sinergi antara pemerintah dan kekuatan ekonomi para saudagar diharapkan bisa menjadi penopang yang kokoh.

Editor: Hendra Wijaya

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar