“Iran merupakan salah satu negara penghasil brent crude oil untuk bahan bakar avtur. Kondisi ini membuat harga emas tergelincir dan investor beralih ke safe haven dolar AS karena prospek penguatannya cukup tajam,” jelasnya.
Memang, di penutupan perdagangan terakhir tanggal 20 Maret lalu, rupiah sempat menunjukkan taring dengan penguatan 0,37 persen ke level Rp16.928. Tapi itu dulu. Sentimen sekarang sudah berubah total. Ancaman konflik darat yang melibatkan Iran, AS, dan Israel jadi momok menakutkan bagi mata uang negara berkembang seperti rupiah.
Maka, Ibrahim memperkirakan saat pasar dibuka pada 24 Maret nanti, rupiah berpotensi melemah lagi dan mendekati level psikologis baru. Rasanya, tekanan belum akan berhenti.
“Dalam perdagangan minggu depan, kemungkinan mata uang rupiah masih akan terus mengalami pelemahan,” tegasnya.
Estimasi pergerakannya? Rupiah diprediksi berada di kisaran Rp16.990 hingga Rp17.075 per dolar AS. Sementara itu, indeks dolar AS sendiri sebelumnya sudah menguat 0,42 persen ke level 99,64. Jadi, bersiaplah untuk volatilitas yang tinggi pekan ini.
Artikel Terkait
Korlantas Berlakukan Sistem Satu Arah Nasional untuk Arus Balik Mulai 24 Maret
Dua Pilot Tewas, Puluhan Luka dalam Kecelakaan Pesawat Air Canada dengan Truk Pemadam di Bandara LaGuardia
KPK Tunggu Hasil Tes Kesehatan untuk Kembalikan Yaqut ke Rutan
Mudik Lebaran 2026: 4,41 Juta Penumpang Melalui Bandara, Soekarno-Hatta Paling Padat