Ivan Kolev Kritik Maraknya Naturalisasi di Timnas Indonesia

- Senin, 23 Maret 2026 | 00:55 WIB
Ivan Kolev Kritik Maraknya Naturalisasi di Timnas Indonesia

Ivan Kolev bukan nama baru di kancah sepak bola Indonesia. Pelatih asal Bulgaria itu punya sejarah panjang di sini, pernah menangani Timnas pada dua periode berbeda (2002-2004 dan 2007) dan juga membesut klub-klub top macam Persija Jakarta dan Sriwijaya FC. Nah, belakangan ini, namanya kembali mencuat. Pasalnya, lewat sebuah wawancara dengan media Bulgaria, DSport.bg, Kolev menyentil fenomena yang sedang hangat: maraknya pemain naturalisasi di Skuad Garuda.

Menurutnya, dulu ia punya prinsip yang berbeda.

“Sulit membandingkan dengan masa saya dulu,” ujar Kolev, yang kini berusia 68 tahun.

Ia mengaku, saat memegang kendali tim nasional, dirinya sengaja membatasi pemakaian pemain naturalisasi. Fokusnya justru pada talenta lokal, pemain hasil binaan klub dan liga dalam negeri.

“Saat saya melatih tim nasional, saya sangat menekankan penggunaan pemain lokal dan menolak naturalisasi berlebihan,” sambung mantan pelatih Mitra Kukar itu.

Wawancara itu sendiri dilakukan menyusul rencana keikutsertaan Timnas Bulgaria dalam FIFA Series 2026 di Jakarta akhir Maret nanti. Rupanya, melihat kondisi Timnas Indonesia sekarang, Kolev mengaku agak kaget. Baginya, perubahan yang terjadi cukup drastis.

Ia melihat klub-klub lokal kini dijejali lima atau enam pemain asing. Timnas pun, menurut pengamatannya, sudah ‘dipenuhi’ pemain naturalisasi. Kolev paham maksud di balik kebijakan ini, yaitu untuk mendongkrak prestasi secepatnya. Namun begitu, ia menilai hasilnya belum juga sesuai dengan harapan.

“Mereka merasa itu membantu, tetapi hasilnya belum sesuai harapan masyarakat Indonesia,” pungkasnya.

Pandangan Kolev ini seperti angin segar di tengah perdebatan yang tak kunjung usai soal pro-kontra naturalisasi. Ia mengingatkan pada sebuah era di mana identitas lokal diutamakan, meski tantangannya mungkin lebih berat. Sekarang, pilihannya ada di tangan kita: mana yang lebih penting, hasil instan atau pembinaan jangka panjang?

Editor: Erwin Pratama

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar