Semua gerakan ini, kata Dian, tak lepas dari peta jalan besar bernama TLKM 30. Strategi transformasi jangka menengah hingga 2030 itu dirancang untuk mendongkrak kinerja dan daya saing Telkom di kancah global. Ada empat pilar bisnis yang jadi tumpuan: bisnis ritel (B2C) lewat Telkomsel, bisnis infrastruktur B2B (menara, fiber, data center), bisnis internasional, serta layanan IT.
Lantas, apa dampak langsungnya? Budi Satria Dharma Purba, Direktur Wholesale & International Service Telkom, memberikan gambaran yang cukup jelas.
"Saat ini, revenue Telkom dari jasa layanan fiber optik dari eksternal sekitar 15 persen. Setelah spin-off InfraNexia, kami targetkan naik menjadi 25 persen," jelas Budi.
Angka itu menunjukkan ambisi mereka. Spin-off bisnis fiber ke InfraNexia bukan sekadar pemindahan tata kelola, tapi sebuah langkah ofensif untuk merebut porsi pasar yang lebih besar. Jika rencana ini berjalan mulus, InfraNexia tak lagi sekadar anak perusahaan, melainkan pemain utama di papan catur infrastruktur digital nasional.
Artikel Terkait
Laba Bersih Bank Jago Melonjak 114% pada 2025, Didorong Pertumbuhan Nasabah
RUU Hak Cipta Usulkan Karya Jurnalistik Dilindungi Hak Eksklusif dan Royalti
Pemerintah Rencanakan Pagar Raksasa untuk Atasi Konflik Gajah-Manusia di Way Kambas
Ketua Banggar DPR Desak Pemerintah Tunda Proyek Tidak Mendesak untuk Pertebal Cadangan Fiskal