Di sisi lain, manajemen punya strategi lain. Mereka meluncurkan program buyback saham hingga USD 3 miliar, yang akan berjalan selama satu setengah tahun ke depan. Langkah ini biasanya ditujukan untuk mendukung harga saham di pasar.
Dan bicara soal harga saham, kinerja Aramco di bursa belakangan ini cukup panas. Sahamnya meroket dalam beberapa sesi perdagangan terakhir. Pemicunya? Harga minyak dunia yang melonjak akibat kekhawatiran akan gangguan pasokan dari kawasan Timur Tengah, termasuk ketegangan di sekitar Iran.
Sekarang, semua mata tertuju pada apakah sang raksasa eksportir minyak mentah terbesar di dunia ini benar-benar bisa memetik keuntungan lebih besar dari situasi geopolitik yang memanas dan lonjakan harga komoditas andalannya. Tantangan ke depan masih panjang, tapi setidaknya untuk 2025, mereka menutup tahun dengan gemilang.
Artikel Terkait
AS Tolak Pengawalan Militer di Selat Hormuz, 10.000 Awak Kapal Terjebak
Gejolak Harga Minyak Ancam BBM, Pengemudi Ojol Beralih Listrik Justru Tenang
Lima Kapal Diserang dalam Dua Hari, Keamanan Jalur Vital Teluk Makin Terancam
Prabowo Serukan Penghentian Aksi Militer ke MBS, Siap Jadi Mediator