Makassar – Dini hari di bulan Ramadan punya ceritanya sendiri. Di Kota Makassar, suasana hebat itu justru datang dari sekelompok remaja. Mereka tak cuma membangunkan warga untuk sahur, tapi melakukannya dengan cara yang unik dan penuh warna.
Bayangkan, Anda terbangun oleh tabuhan drum dan sorak-sorai. Lalu, dari balik jendela, terlihat iring-iringan remaja berjalan kaki menyusuri gang sempit. Mereka mengenakan pakaian pengantin adat Makassar yang megah, lengkap dengan segala perniknya. Itulah patrol sahur yang digelar Tidung Mariolo Community.
Kostum Berganti, Semangat Tetap Sama
Setiap malam, rute mereka sama: menyisir jalan dan gang di Kampung Tidung Mariolo, Kelurahan Tidung. Tapi penampilannya selalu berubah. Kadang mereka berlagak seperti murid SD, lain waktu jadi 'mak-mak' berdaster, atau bahkan berperan sebagai dokter dan perawat. Malam ini, tema yang diusung adalah pengantin adat.
Dengan pelantang suara dan alat musik seadanya, lagu "Sahur-sahur ayo kita sahur" berkumandang. Warga yang terbangun seringkali tak cuma tersenyum. Mereka ikut membantu membangunkan tetangga sebelah, menciptakan efek domino kebangkitan yang riuh rendah.
"Tema pada dini hari ini adalah mengantar pengantin, kostum kita tiap hari berganti. Rutenya di sekitar Tidung Mariolo, masuk gang-gang,"
kata Naslan, salah satu anggota patrol, pada Kamis dini hari lalu.
Lebih Dari Sekadar Hiburan
Di balik keriuhan itu, ada tujuan mulia. Tentu saja, membangunkan warga untuk sahur adalah yang utama. Namun, aksi ini juga jadi media sedekah yang menyenangkan. Tak jarang, warga yang terhibur memberikan saweran kepada para remaja.
Uang yang terkumpul tidak mereka nikmati sendiri. Hasilnya dikelola untuk disumbangkan ke panti asuhan, masjid, atau warga sekitar yang membutuhkan. Sebagian juga untuk operasional patroli itu sendiri.
"Biasa juga dikasih saweran sama warga. Hasilnya kita kumpulkan dan dibagikan ke anak-anak yatim piatu dan teman-teman,"
tambah Naslan menjelaskan.
Kegiatan yang akrab disebut 'gerebek sahur' ini ternyata sudah berjalan delapan tahun. Bermula dari inisiatif sederhana remaja kampung, kini jadi tradisi yang dinanti. Setiap Ramadan, sejak hari pertama hingga malam takbiran, suara mereka selalu setia membelah dinginnya subuh.
Mereka bahkan punya rencana ke depan. "Kami sudah mulai dari 2019. Ke depannya, mungkin kami akan berpikir bagaimana cara membangunkan warga dengan cara yang lebih kreatif," tutup Naslan. Sebuah janji bahwa Ramadan tahun depan akan tetap meriah, dengan cara-cara yang mungkin tak terduga.
Artikel Terkait
Alex Marquez Menang di MotoGP Spanyol 2026 Usai Marc Marquez Jatuh, Bezzecchi Kokoh di Puncak Klasemen
Lebih 800 Alumni Unair Reuni di Jakarta, Hadirkan PADI Reborn hingga Bincang Strategis
Psikolog Ungkap Bahaya Merasionalkan Pelecehan: Tubuh Beri Sinyal, Jangan Diabaikan
IHSG Ambruk 3,38% ke 7.129, Analis Sebut Masih Rawan Koreksi