Di kediaman keluarga di Caringin, Bogor, suasana haru menyelimuti proses pengambilan sampel DNA. Tim Disaster Victim Identification (DVI) Polda Jawa Barat mendatangi rumah keluarga Esther Aprilita S., pramugari pesawat ATR 42-500 yang menjadi korban musibah di Gunung Bulusaraung, Maros.
Kepala Bidang Humas Polda Jawa Barat, Kombes Pol Hendra Rochmawan, mengonfirmasi hal ini.
“Saat ini tim DVI Polda Jawa Barat berada di kediaman keluarga korban untuk mengambil data antemortem serta DNA pembanding dari pihak keluarga,”
ujarnya, seperti dilaporkan Antara, Minggu (18/1).
Menurut Hendra, langkah ini bukan sekadar formalitas. Pengambilan data antemortem dan sampel DNA itu merupakan bagian krusial dari identifikasi korban secara ilmiah. Prosesnya dilakukan dengan penuh kehati-hatian di rumah duka.
Kecelakaan ini bermula dari penerbangan yang berangkat dari Yogyakarta menuju Makassar, Sabtu (17/1) pagi. Pesawat dengan nomor registrasi PK-THT itu seharusnya mendarat sekitar pukul 12.22 WITA. Namun, tak lama setelah petugas ATC Makassar memberi instruksi untuk menyesuaikan jalur pendaratan, pesawat justru melewati titik yang ditentukan.
Kontak pun terputus.
Perkiraan titik hilangnya berada di koordinat 04°57’08” LS dan 119°42’54” BT, wilayah udara perbatasan Maros dan Pangkep. Perkembangan terakhir, tim SAR gabungan berhasil menemukan serpihan pesawat di lereng Gunung Bulusaraung yang curam. Mereka juga menemukan satu korban laki-laki di lokasi.
Evakuasi masih berlangsung, sementara upaya identifikasi untuk kesepuluh orang di dalam pesawat dimulai dari Bogor, dengan harapan bisa memberikan kepastian bagi keluarga yang menunggu.
Artikel Terkait
Komisi IV DPR Apresiasi Kinerja Mentan Amran Stabilkan Harga Sawit, Telur, dan Ayam
PSM Makassar Tunjuk Kembali Darije Kalezic sebagai Pelatih Kepala untuk Musim 2026/2027
Dosen UNM Diganjar 4,5 Tahun Penjara Terbukti Lakukan Kekerasan Seksual ke Mahasiswi
Pembentukan ‘Wilayah Tengah’ di Libya Picu Gelombang Penolakan dan Kekhawatiran Disintegrasi