Donald Trump baru-baru ini mengeluh. Mantan Presiden AS itu merasa hubungan antara negaranya dan Inggris sudah "tak seperti dulu lagi". Keluhan ini, menurut pengamat, bukan tanpa alasan. Ia mencerminkan sebuah pergeseran yang cukup signifikan dalam kepentingan nasional Inggris dan sekutu-sekutu Eropanya.
Fredy Buhama Lumban Tobing, Guru Besar HI UI, melihat hal ini sebagai pola lama. "Negara-negara Uni Eropa termasuk Inggris sejak lama memang cenderung memperlihatkan sikapnya, kebijakan luar negerinya yang berbeda dengan AS," ujarnya.
Pernyataan Fredy disampaikan kepada wartawan pada Kamis lalu.
Memang, kata Fredy, keselarasan mutlak antara AS dan Eropa hanyalah ilusi. Inggris dan negara-negara lain di benua itu punya sejarah dan kepentingan nasionalnya sendiri. Hal inilah yang kerap membuat kebijakan mereka tak sejalan dengan Washington.
Perbedaan itu kentara sekali di Timur Tengah dan Teluk Persia. Menurut Fredy, negara-negara Eropa punya ikatan historis yang dalam dengan kawasan tersebut, terutama Inggris.
"Khususnya dalam pengelolaan konsesi tambang minyak," jelasnya.
Nah, di sinilah masalahnya. Ambisi Amerika di kawasan itu justru sering kali bikin khawatir sekutunya sendiri. Ambisi itu dinilai mengganggu, bahkan mengancam, kepentingan ekonomi negara seperti Inggris dan Prancis.
"Ambisi dan kebijakan AS di kawasan Timur Tengah dan Teluk Persia makin hari makin mengkhawatirkan kepentingan negara-negara Eropa terutama Inggris dan Prancis," ungkap Fredy.
Alasannya sederhana: kontrak-kontrak konsesi minyak yang menggiurkan. Selama ini, kontrak-kontrak itu dikuasai oleh Inggris dan Prancis. Keterikatan mereka dalam persekutuan dengan AS justru berpotensi membuat mereka kehilangan sumber daya vital tersebut.
Maka, wajar saja jika sikap Inggris mulai berubah. Lama-kelamaan, beban untuk selalu mengikuti kemauan Washington terasa memberatkan. Kepentingan nasional mereka sendiri terancam.
"Tidak terlalu mengherankan kalau pihak Inggris dalam hal ini tidak lagi sepenuhnya mengikuti semua keinginan dan ambisi di Timur Tengah dan Teluk Persia," imbuh Fredy.
Jadi, keluhan Trump itu mungkin lebih dari sekadar nostalgia. Ia adalah gema dari sebuah realitas yang sedang berubah: sekutu punya jalannya sendiri.
Artikel Terkait
Iran Perbarui Data Korban Tewas, 3.400 Orang Gugur dalam Konflik dengan AS dan Israel
NBA Longgarkan Aturan 65 Laga, Luka Doncic Tetap Kandidat MVP
Kemala Run 2026 Tampilkan Sport Tourism dan Aksi Kemanusiaan di Bali
Analis: Gencatan Senjata Iran-AS-Israel Rapuh, Perdamaian Masih Jauh