Sudah sepuluh hari berlalu sejak gencatan senjata antara Iran dan AS-Israel diumumkan. Meski dentuman rudal dan deru drone mereda untuk sementara, konflik antara ketiga negara ini sama sekali belum berakhir. Bahkan, menurut para pengamat, perdamaian sejati masih jauh dari jangkauan.
Teuku Rezasyah, seorang pakar hubungan internasional dari Universitas Padjadjaran, melihat situasinya suram. Menurutnya, tak ada indikasi kuat bahwa perang yang sudah mengguncang pasar minyak global ini akan berhenti dalam waktu dekat.
"Tidak terlihat adanya tanda perang akan berakhir walaupun AS, Israel dan Iran bersepakat untuk gencatan senjata," ujar Teuku, Minggu lalu.
Ia punya beberapa alasan. Yang pertama berkaitan dengan permainan Iran di Selat Hormuz, jalur vital bagi pasokan minyak dunia. Gencatan senjata yang dimulai 8 April sempat diwarnai kabar baik: Iran membuka akses selat itu. Namun, kabar itu hanya bertahan hitungan jam. Akses kemudian ditutup kembali.
"Iran sangat lihai berdiplomasi," katanya.
Dia menjelaskan, dengan membuka akses sesuai kedaulatannya, Iran terlihat mematuhi hukum internasional. Tapi penutupan berikutnya adalah bentuk tarik-ulur yang khas. Di sisi lain, AS justru dinilainya berpotensi menjadi "perusak" aturan main global jika memilih untuk memblokade selat itu. Langkah seperti itu, menurut Teuku, hanya akan merusak hubungan Washington dengan banyak negara lain yang bergantung pada Selat Hormuz.
Faktor lain yang menghalangi perdamaian adalah dinamika politik dalam negeri AS dan Israel. Kedua pemimpinnya, Donald Trump dan Benjamin Netanyahu, sedang menghadapi tekanan politik yang hebat, termasuk wacana pemakzulan.
"Terlihat AS dan Israel gelisah," tutur Teuku.
Bagi mereka, melanjutkan perang bisa jadi pilihan rasional sebuah cara untuk mengalihkan perhatian dan memperlambat proses penggulingan dari kursi kekuasaan. Dengan kata lain, konflik ini memberi mereka napas politik.
Lalu, bagaimana dengan masa depan gencatan senjata yang sedang berjalan? Teuku mengatakan kesepakatan itu masih mungkin diperpanjang. Syaratnya, AS dan Israel harus bersikap akomodatif dan menjadikan hukum internasional sebagai pedoman bersama.
Namun begitu, peluang itu sangat rapuh. Mengingat track record kedua negara yang sering dianggap melanggar perjanjian damai, semuanya bisa berubah dalam sekejap.
"Gencatan senjata berpotensi gagal kembali, sekiranya AS dan Israel kembali melakukan pemboman atas wilayah Iran," pungkasnya tegas.
Jadi, meski suasana kini terlihat lebih tenang, ketegangan sebenarnya masih menggantung. Semua pihak seperti sedang menarik napas panjang, menunggu langkah berikutnya yang bisa memicu segala sesuatunya kembali meledak.
Artikel Terkait
Jusuf Kalla Dilaporkan ke Polda Metro Jaya Terkait Pernyataan Mati Syahid
Telkomsel Luncurkan IndiHome Ultra Mesh Wi-Fi untuk Atasi Sinyal Tak Merata di Rumah
CFD Bundaran HI Lebih Ramai, Warga Nikmati Ruang Publik di Hari Minggu
Indonesia Kecam Serangan Mematikan terhadap Pasukan Perdamaian PBB di Lebanon