Nah, itulah sebabnya dia enggan terburu-buru. Kalau gegabah mengubah anggaran sekarang, lalu harga minyak turun lagi, ya repot jadinya. Pemerintah akan dipusingkan dengan revisi berulang.
“Nanti kalau harga minyak turun, kita ubah lagi. Repot kan,” kelakarnya dengan nada khas. “Capek lah gue, kerjanya ngerubah-rubah anggaran terus.”
Dia pun membedakan cara mengelola anggaran negara dengan merespons gejolak saham. “Jadi menetapkan respon APBN itu lebih hati-hati dibanding dengan merespons gerakan saham. Jadi (kalau saham), volume-nya, range-nya, horizon-nya pendek sekali. Jadi nggak seperti itu kita manage anggaran.”
Prinsipnya, tunggu dan lihat dulu. “Jadi kita pastikan seperti apa gerakannya. Setelah pasti, baru kita ajak semuanya,” pungkasnya.
Memang, ketegangan di Timur Tengah ini sempat bikin pasar kalang kabut. Selain minyak yang tembus di atas USD 100 per barel sejak Minggu lalu, rupiah juga ikut tertekan. Pada awal perdagangan Senin, mata uang kita sempat menyentuh level Rp 17.000 per dolar AS. Gejolaknya nyata, tapi respons pemerintah kali ini ingin lebih terukur.
Artikel Terkait
Mantan Dirjen Aptika Kominfo Divonis 6 Tahun Penjara Kasus Korupsi PDNS
Eskalasi Konflik Iran-AS-Israel Perparah Krisis Pangan dan Bantuan di Gaza
Komisi XI Gelar Fit and Proper Test untuk Lima Posisi Pimpinan OJK
BRI Siapkan Rp25 Triliun dan Layanan Terbatas untuk Antisipasi Libur Lebaran 2026