Lalu, apa yang sedang dilakukan? Langkah konkretnya, pemerintah lewat Kemenkes sedang menggenjot dua program: Outbreak Response Immunization (ORI) dan imunisasi kejar Campak-Rubella. Sasaran utamanya anak usia 9 bulan sampai 5 tahun. Gerakan ini digelar di 102 kabupaten/kota sepanjang Maret ini, dengan titik layanan yang diperbanyak. Nggak cuma puskesmas atau posyandu, tapi juga sampai ke PAUD, tempat ibadah, bahkan pos-pos layanan mudik. Tujuannya satu: menjangkau lebih banyak anak.
“Kami mengajak para orang tua untuk segera memeriksa status imunisasi anak dan melengkapinya jika belum lengkap. Imunisasi merupakan perlindungan paling efektif untuk mencegah anak tertular campak,” kata dr. Andi.
Di sisi lain, peran serta masyarakat tetap kunci. Perilaku hidup bersih dan sehat seperti rajin cuci tangan pakai sabun, etika batuk yang benar, dan pakai masker di kerumunan harus jadi kebiasaan. Terutama jika ada anak yang menunjukkan gejala seperti demam tinggi dan bercak merah.
“Apabila anak mengalami gejala campak atau sedang sakit, sebaiknya tidak bepergian terlebih dahulu dan segera dibawa ke fasilitas pelayanan kesehatan. Mengurangi kontak dengan orang lain juga penting untuk mencegah penularan lebih luas,” jelasnya.
Pada akhirnya, upaya mengendalikan campak ini nggak bisa ditumpukan pada pemerintah pusat semata. Diperlukan komitmen kuat dari pemda, dukungan berbagai sektor, dan tentu saja, kesadaran kita semua. Target cakupan imunisasi minimal 95% harus dicapai untuk membentuk kekebalan kelompok yang mampu memutus mata rantai penularan. Mudik boleh, tapi kesehatan tetap yang utama.
Artikel Terkait
Presiden Prabowo Resmikan 218 Jembatan Pascabencana di Sumatera
KPK Tetapkan Ajudan Gubernur Riau Nonaktif sebagai Tersangka Baru Kasus Pemerasan
BNI Bagikan Dividen Rp13,03 Triliun dan Rencanakan Buyback Saham
Korban Tewas Konflik Iran Capai 1.255 Jiwa, Termasuk 168 Anak di Sekolah Dasar