Gubernur Kalsel Soroti Relevansi Falsafah Waja Sampai Kaputing untuk Bangun Karakter Bangsa

- Senin, 09 Maret 2026 | 21:45 WIB
Gubernur Kalsel Soroti Relevansi Falsafah Waja Sampai Kaputing untuk Bangun Karakter Bangsa

Semangat dari Kalimantan: Saat "Waja Sampai Kaputing" Menjawab Tantangan Zaman

Dunia lagi-lagi terasa berat. Tekanan datang dari segala penjuru, bikin kita kadang ingin menyerah saja. Tapi, justru di tengah situasi seperti ini, kita perlu mengingat kembali kekayaan yang sudah ada di depan mata: kearifan lokal Nusantara. Ambil contoh falsafah dari Suku Banjar di Kalimantan Selatan. Ada ungkapan yang bunyinya, "dalas hangit, haram menyarah, waja sampai kaputing". Maknanya dalam? Sangat. Dan prinsip hidup ini disebut-sebut punya relevansi kuat buat mengokohkan karakter bangsa, terutama untuk anak muda yang masih mencari jati diri.

Lantas, apa sih artinya? Gubernur Kalimantan Selatan, Muhyiddin, mencoba menjabarkannya dengan sederhana.

"Intinya, meski harus hangus terbakar sekalipun, kita pantang menyerah. Tekad harus sekuat baja, dari awal sampai akhir," ujarnya.

Menurutnya, ungkapan ini bukan sekadar kata-kata. Ia lahir dari napas perjuangan Pangeran Antasari yang mengajarkan keteguhan hati, niat yang lurus, dan keberanian untuk tetap melangkah meski keadaan serba sulit. Pelajaran sejarah yang ternyata masih sangat aplikatif sampai hari ini.

Di sisi lain, cendekiawan Din Syamsuddin melihat ada keselarasan yang menarik dengan ajaran Islam. Agama ini secara tegas melarang umatnya berputus asa dari rahmat Allah. Menyelesaikan tugas sampai tuntas dengan hasil terbaik, itu adalah wujud integritas seorang muslim. Jadi, semangatnya punya akar yang dalam, bukan cuma sekadar motivasi sesaat.

Menariknya, prinsip semacam ini ternyata punya resonansi yang universal. Ambil contoh dari dunia olahraga. Jamar Johnson, seorang pelatih basket profesional, pernah bilang begini.

"Hambatan itu sebenarnya satu-satunya jalan menuju kesuksesan. Tanpa rintangan, kemenangan jadi tak bermakna."

Pernyataan Johnson itu seperti gema dari falsafah "waja sampai kaputing" yang dibicarakan tadi. Intinya sama: ketangguhan mental adalah kunci.

Lalu, gimana cara mempraktikkannya dalam keseharian? Pertama, tentu saja dimulai dari niat. Niatnya harus membaja, tidak boleh setengah-setengah. Setelah itu, butuh peta jalan. Rencana yang jelas, meski fleksibel. Dan yang paling penting: eksekusi. Langkah nyata yang dilakukan terus-menerus, konsisten, tanpa kenal lelah.

Pada akhirnya, semangat "Waja Sampai Kaputing" ini lebih dari sekadar slogan. Ia adalah tantangan. Tantangan untuk tidak puas jadi yang baik-baik saja, tapi berusaha menjadi yang terbaik. Dalam kondisi apa pun. Karena menyerah, bukanlah sebuah pilihan.

Editor: Redaksi MuriaNetwork

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar