WASHINGTON Gim "Call of Duty" membuka video itu. Adegan tembak-menembak virtual langsung berganti jadi gambar nyata: jet tempur meluncur dari kapal induk, rudal melesat, target meledak dalam gerak lambat. Semua diiringi dentuman lagu "Bonfire" dari Childish Gambino dan suara narator berat yang mengklaim, "kita memenangkan pertarungan ini."
Layar pun menampilkan skor eliminasi, persis seperti di gim, setiap kali ada ledakan. Video ini bukan buatan fans. Ini karya Gedung Putih, bagian dari kampanye media sosial pemerintahan Trump untuk menjual perang melawan Iran ke publik Amerika. Sudah ditonton lebih dari 58 juta kali.
Dulu, konflik militer dijelaskan dengan grafik tenang dan briefing penuh data. Sekarang? Nuansanya seperti trailer film aksi atau gameplay highlight. Teknologi militer AS dipamerkan dengan sudut kamara dramatis pesawat siluman membelah awan, ledakan bola api memenuhi layar, soundtracknya mendebarkan. Pesannya bukan lagi "mengapa" Amerika berperang, tapi "bagaimana". Dan caranya penuh keberanian.
Video-video serupa membanjiri X, TikTok, dan Instagram. Isinya campuran cuplikan militer asli, musik adrenalin tinggi, dan sisipan dari film-film seperti "Top Gun" atau "Iron Man". Akun-akun pendukung Trump ramai membagikannya.
Menurut Craig Silverman dari Indicator, situs yang fokus pada penipuan digital, hal semacam ini dulu butuh keahlian dan waktu lama. "Sekarang," katanya, "seorang manajer media sosial di Gedung Putih bisa mengutak-atik alat editing selama setengah jam dan menghasilkan sesuatu yang kelihatan cukup bagus."
Tapi banyak yang mengkritik. Mereka menyebutnya "gamifikasi" perang yang tidak pantas. Bagaimana mungkin konflik yang menelan korban jiwa baik tentara AS maupun warga sipil Iran dijual seperti tontonan hiburan?
Apalagi, Gedung Putih sendiri tampak kesulitan merumuskan alasan jelas di balik serangan yang dimulai 28 Februari lalu. Presiden Trump dan beberapa menteri kerap memberikan penjelasan yang berubah-ubah dan saling bertentangan. Di tengah kebingungan itu, video-video kekuatan militer justru diunggah.
James Glassman, mantan pejabat diplomasi publik di era George W. Bush, punya pendapat keras.
"Kalau mau berkomunikasi, hal utama yang harus dilakukan adalah menjelaskan kepada rakyat Iran mengapa Anda membom negara mereka, bukan menunjukkan bagaimana kita meledakkan berbagai hal," ujarnya kepada Reuters.
Artikel Terkait
Gubernur DKI Tegaskan Tak Ada Skrining Pendatang Pasca-Lebaran 2026
Menteri Kehutanan Sebut Percepatan Perhutanan Sosial di Lombok Arahan Langsung Presiden
Badan Gizi Nasional Tutup Sementara 492 Dapur MBG di Sumatra karena Tak Miliki Izin Higiene
Pemerintah Siapkan Skenario Haji 2026 Antisipasi Ketegangan Timur Tengah