"Ini seperti upaya menjual perang dengan membuatnya terlihat 'keren', mirip video gim."
Juru bicara Gedung Putih, Anna Kelly, punya pembelaan. Ia mengatakan militer AS telah memenuhi atau melampaui target dalam perang melawan Iran. "Gedung Putih akan terus memamerkan banyak contoh hancurnya rudal balistik Iran, fasilitas produksi, dan mimpi mereka untuk memiliki senjata nuklir secara real-time," katanya.
Budaya pop benar-benar jadi bumbu utama. Salah satu video memakai meme kadal hijau dari film Pixar "Elio" di mana kadal itu mengetuk layar dan setiap ketukan memicu peluncuran rudal. Video lain, bertajuk "OPERATION EPIC FURY", menampilkan klip pesawat pembom B-1 dan B-2 Spirit dengan backsong lagu "Macarena" versi remix. Reuters menemukan fakta: beberapa cuplikan itu rekaman stok lama, bukan dari konflik Iran terkini. Tapi video itu tetap viral, ditonton lebih dari 18 juta kali.
Nuansanya sangat jauh dari pernyataan resmi militer. Ketika Ketua Kepala Staf Gabungan, Jenderal Dan Caine, mengumumkan nama prajurit AS yang gugur, nada yang ia pakai penuh kesedihan dan hormat. "Kepada keluarga mereka yang gugur, kami berduka bersama Anda hari ini," ujarnya.
Video-video Gedung Putih justru punya energi berbeda: cepat, repetitif, dan dirancang untuk platform media sosial. Salah satu yang paling mencolok menampilkan rangkaian ledakan diselingi karakter SpongeBob SquarePants yang berkata berulang, "Wanna see me do it again?" Klip 14 detik itu ditonton lebih dari 9 juta kali.
Kristopher Purcell, yang dulu bekerja di komunikasi Gedung Putih era invasi Irak 2003, yakin target video-video ini adalah pria muda demografi yang kuat mendukung Trump. Bedanya, kata dia, dulu pemerintahan Bush menghabiskan bulanan untuk menyusun alasan sebelum invasi. Sekarang, video justru dikirim "setelah" aksi militer, sebagai pembenaran. "Ini adalah cara yang gila untuk melakukan sesuatu," katanya tentang "gamifikasi" konflik ini.
Memang, tak bisa dipungkiri, tim Trump sangat jago memanfaatkan media sosial. Mereka punya feel yang tepat untuk menciptakan konten yang langsung nyambung, meski sering menyimpang dari norma kepresidenan tradisional.
Tapi Matthew Baum, profesor komunikasi global di Harvard, melihat potensi masalah. Trump berjanji pada basis pendukungnya untuk bersikap isolasionis. Sekarang ia malah terlibat perang. Maka, pesan kekuatan militer lewat meme dan video game ini mungkin tidak akan seefektif kampanye digitalnya dulu.
"Basis massanya tidak sepenuhnya mendukung perang di Iran," jelas Baum. "Jadi ini audiens yang sulit. Padahal biasanya, basis MAGA siap mengikuti ke mana pun ia memimpin."
Artikel Terkait
Gubernur DKI Tegaskan Tak Ada Skrining Pendatang Pasca-Lebaran 2026
Menteri Kehutanan Sebut Percepatan Perhutanan Sosial di Lombok Arahan Langsung Presiden
Badan Gizi Nasional Tutup Sementara 492 Dapur MBG di Sumatra karena Tak Miliki Izin Higiene
Pemerintah Siapkan Skenario Haji 2026 Antisipasi Ketegangan Timur Tengah