Asisten Pelatih PSM Akui Kondisi Tim Belum Ideal, Tumbuhkan Mental Jelang Lawan Malut United

- Jumat, 06 Maret 2026 | 22:30 WIB
Asisten Pelatih PSM Akui Kondisi Tim Belum Ideal, Tumbuhkan Mental Jelang Lawan Malut United

Suasana di ruang konferensi pers Stadion Gelora Kie Raha, Ternate, jauh lebih hening. Kontras sekali dengan keriuhan yang selama ini membayangi perjalanan PSM Makassar. Tapi jangan salah, ketenangan itu bukan berarti semuanya baik-baik saja. Pasukan Ramang jelas sedang tidak baik-baik saja.

Di hadapan para wartawan, Asisten Pelatih Ahmad Amiruddin berbicara dengan penuh kehati-hatian. Ia tak mau mengelak. Rentetan hasil buruk itu nyata dan sempat menggoyahkan kepercayaan diri anak asuhnya. Tapi, di balik semua tekanan itu, ada secercah harapan. Menurutnya, PSM belum kehilangan nyali untuk bangkit.

“Beberapa pemain penting akhirnya kembali,” ujarnya, membawa kabar baik jelang laga kontra Malut United di pekan ke-25 Super League 2025-2026.

Nama-nama seperti Victor Luiz, Savio Roberto, dan kiper Hilmansyah sudah bisa dimainkan lagi. Kehadiran mereka tentu jadi angin segar, memberikan opsi lebih banyak terutama untuk lini sayap dan pertahanan yang sempat terlihat goyah.

Namun begitu, kabar buruknya juga ada. Kondisi skuad ternyata paradoks.

Di saat yang sama, masih ada pemain yang harus menepi. Gledson Martins masih dalam pemulihan pasca sakit. Begitu pula dengan Salman Alfarid dan Ananda Raehan Lasinari yang belum fit seratus persen. Dinamika seperti ini, bagi Ahmad, sudah jadi makanan sehari-hari dalam kompetisi panjang. Tak ada tim yang sempurna sepanjang musim; yang penting adalah respons mereka.

Lalu, apa pesannya di tengah situasi tak ideal ini? Justru sesuatu yang sederhana.

“Percaya pada kemampuan sendiri,” katanya. Ia mendorong para pemain untuk membawa kualitas latihan ke lapangan hijau, dan selalu mengingat identitas klub yang mereka pikul. Latihan harus seintens pertandingan, dan sebaliknya. Tapi ada satu hal lain yang ia tekankan, sesuatu yang sering terlupakan: kebanggaan.

Rasa bangga mengenakan jersey merah marun itu, kata Ahmad, adalah energi tak terukur. Tim yang bangga pada identitasnya akan selalu punya cara untuk bertarung lebih keras.

Di sisi lain, ia juga menanggapi pernyataan Malut United yang menyebut PSM sebagai tim kuat dan berpengalaman.

“Kami hargai pernyataan itu,” ucapnya. Respek dari lawan adalah bagian dari sportivitas. Tapi ia tak menampik realita: PSM sedang melalui masa sulit. Hasil-hasil akhir pekan terakhir membuktikan performa mereka belum stabil.

Meski demikian, pandangannya tidak pesimis. Dari pinggir lapangan latihan, ia melihat sendiri betapa keras para pemain berusaha. Kerja keras itu adalah tanda bahwa semangat untuk keluar dari lubang hitam ini masih menyala. Sepak bola punya siklus yang cepat; tim yang hari ini terpuruk bisa menemukan momentum hanya dalam satu malam.

Ia berharap masa-masa kelam ini segera berlalu. Kuncinya, lebih dari sekadar strategi atau susunan pemain, adalah mental pemenang. Itu yang harus kembali muncul.

Sebab pada akhirnya, perbedaan antara tim yang bangkit dan yang terus terperosok seringkali bukan soal taktik di papan tulis. Itu soal keberanian untuk tetap percaya bahwa kemenangan masih mungkin diraih.

Editor: Bayu Santoso

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar