Ian Huntley, Pembunuh Dua Anak di Soham, Tewas Diserang di Penjara

- Minggu, 08 Maret 2026 | 02:10 WIB
Ian Huntley, Pembunuh Dua Anak di Soham, Tewas Diserang di Penjara

Ian Huntley, salah satu pembunuh anak paling keji dalam sejarah Inggris, tewas. Ia menghembuskan napas terakhir di Penjara HM Frankland, Durham, setelah sebelumnya menjadi korban serangan di balik jeruji besi.

"Ia meninggal dunia di rumah sakit pagi ini," ujar juru bicara kepolisian setempat, seperti dikutip AFP, Minggu (8/3/2026).

Nama Huntley takkan pernah lepas dari tragedi memilukan tahun 2002. Pria itu menghabisi nyawa dua sahabat karib, Holly Wells dan Jessica Chapman, yang baru berusia sepuluh tahun. Kasusnya mengguncang seluruh negeri. Padahal, di penjara berkeamanan maksimum itu, ia seharusnya menjalani hukuman seumur hidup. Namun, nasib berkata lain. Tanggal 26 Februari lalu, ia diserang dan mengalami luka serius yang akhirnya merenggut nyawanya.

Semuanya berawal dari sebuah sore di musim panas. Tanggal 4 Agustus 2002, Holly dan Jessica meninggalkan acara barbeque keluarga di desa Soham, Cambridgeshire. Mereka hanya ingin membeli permen. Tapi, mereka tak pernah pulang.

Kementerian Kehakiman Inggris menyebut kasus ini sebagai salah satu yang paling tragis. "Tetap menjadi salah satu kasus yang paling mengejutkan dan tragis dalam sejarah bangsa kita, dan doa kami menyertai keluarga mereka," tegas juru bicara mereka.

Hilangnya kedua gadis kecil itu memicu gelombang solidaritas luar biasa. Pencarian besar-besaran digelar, melibatkan ratusan polisi dan ribuan warga yang turun membantu. Foto mereka yang tersebar luas mengenakan kaus merah Manchester United yang sama seolah membekas di ingatan kolektif bangsa. Hampir dua minggu kemudian, harapan pun padam. Jenazah mereka ditemukan teronggok di sebuah parit, beberapa mil dari rumah.

Yang membuat darah mendidih, pelakunya justru orang yang berpura-pura paling khawatir. Huntley, saat itu berusia 28 tahun dan bekerja sebagai penjaga sekolah, bahkan tampil di media menyatakan keprihatinannya. Sikapnya itu justru menimbulkan kecurigaan polisi. Di persidangan 2003, semua kebohongannya runtuh. Ia dinyatakan bersalah.

Kekasihnya di masa itu, Maxine Carr yang adalah asisten guru di sekolah korban ikut terseret. Perempuan itu memberikan alibi palsu untuk Huntley dan akhirnya harus mendekam karena menghalangi proses peradilan. Kini, dikabarkan Carr hidup dengan identitas baru.

Kasus Huntley membuka kotak Pandora. Ternyata, pria ini punya catatan kelam terkait pemerkosaan dan pelecehan seksual sebelum peristiwa Soham. Fakta mengerikan ini memaksa pemerintah memberlakukan pemeriksaan latar belakang kriminal ketat bagi siapa pun yang ingin bekerja dengan anak-anak. Di penjara pun, hidupnya tak tenang. Ia beberapa kali diserang, dengan insiden terparah terjadi pada 2005 dan 2010.

Kini, setelah kematiannya, penyelidikan kembali bergulir. "Penyelidikan polisi atas keadaan insiden tersebut sedang berlangsung," jelas juru bicara kepolisian. Mereka juga menyatakan bahwa jaksa akan mempertimbangkan tuntutan terhadap pelaku penyerangan terakhir ini.

Sebuah akhir yang kelam untuk seorang pria yang memulai segalanya dengan kejahatan yang lebih kelam lagi.

Editor: Lia Putri

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar