"Bantuan Anda sangat dirasakan. Saya berterima kasih atas nama pemerintah dan bangsa Indonesia atas bantuan saudara Baznas yang mengorganisirnya. Luar biasa, terima kasih," katanya lagi, dengan getaran emosi yang semakin jelas terdengar.
Tak lupa, Prabowo menyebut peran pemerintah dalam memfasilitasi pengiriman. "Kita siapkan Hercules, kita siapkan payung. Banyak bahan-bahan yang diterjunkan adalah bahan-bahan melalui Baznas. Terima kasih," ucapnya.
Kalimat terakhir itu sepertinya menjadi puncaknya. Begitu selesai mengucapkannya, Presiden tak lagi mampu menahan diri. Air mata yang sudah lama menggenang akhirnya menetes. Dengan gerakan cepat dan halus, ia mengusap pipinya menggunakan handuk kecil yang kebetulan ada di atas podium.
Momen itu berlangsung singkat, tapi dampaknya terasa lama. Ruangan seketika hening. Para tamu yang hadir menyaksikan dengan mata kepala sendiri ketulusan dan empati yang meluap dari pemimpin mereka. Ini bukan lagi soal protokoler atau pidato. Ini adalah refleksi murni dari solidaritas kemanusiaan yang selama ini digaungkan Indonesia untuk Palestina.
Acara yang awalnya bernuansa silaturahmi, berubah menjadi sebuah penguatan komitmen yang dalam dan personal. Sebuah pengingat, di balik semua kebijakan dan diplomasi, ada rasa kemanusiaan yang mendasar yang menyatukan kita semua.
Artikel Terkait
APBN Defisit Rp135,7 Triliun, Penerimaan Pajak Tumbuh 30 Persen
Menkeu Siapkan Penghematan Anggaran Hadapi Ancaman Defisit Akibat Harga Minyak
Menteri Keuangan Siapkan Skenario Antisipasi Defisit Jika Harga Minyak Capai USD92
Filipina Terapkan Kerja Empat Hari Seminggu untuk Kantor Pemerintah, Antisipasi Krisis Energi Global