Lalu ia melanjutkan, “Kenapa kita menata? karena memang ini kita hitung betul antara supply dan demand. Idealnya adalah batu bara kita produksi banyak, volumenya besar, tapi harganya juga harus bagus.”
Namun begitu, realitanya berkata lain. Fakta yang ada justru paradoks. Indonesia disebutnya menyuplai sekitar 43 persen dari kebutuhan batu bara dunia, yang angkanya mencapai 1,3 miliar ton. Produksi kita sendiri ada di kisaran 500 hingga 550 juta ton. Tapi anehnya, harga di pasar internasional malah tertekan turun.
“Tapi apa yang terjadi? harganya bukan kita yang mengendalikan, harganya di luar yang mengendalikan,” keluh Bahlil.
Logika pasar sederhana pun berlaku. “Idealnya harganya bagus karena supply dan demand,” katanya. “(Faktanya) supply besar, demand sedikit, maka harganya jadi kurang.”
Intinya, penataan RKAB ini adalah upaya untuk merespon mekanisme pasar global yang kerap tak terkendali. Dengan mengatur produksi, pemerintah berusaha mengambil kendali agar harga tidak terus terpuruk, sambil tetap menjamin pasokan untuk dalam negeri terutama untuk listrik kita benar-benar aman.
Artikel Terkait
BRILink Agen di Grobogan Ubah Kios Pupuk Jadi Pusat Layanan Keuangan Desa
Polisi Bongkar Jaringan Perburuan Liar Gajah Sumatera di Riau, 15 Orang Diamankan
Bupati Pekalongan Bantah Terlibat OTT KPK Meski Kenakan Rompi Oranye
Gubernur Pramono Anung Ancam Beri Sanksi ASN yang Langgar Aturan Naik Transportasi Umum Setiap Rabu