jelas Bahlil.
Lalu, apa langkah konkretnya? Pemerintah memutuskan untuk mengalihkan sumber impor. Daripada bergantung pada Timur Tengah yang sedang bergejolak, Indonesia akan mencari pasokan dari tempat lain. Untuk minyak mentah, sekitar 20-25 persen impor yang biasanya dari Timur Tengah akan dialihkan ke Amerika Serikat.
Hal serupa berlaku untuk LPG. Dari total impor LPG Indonesia yang mencapai 7,8 juta ton tahun ini, sekitar 30 persennya masih mengandalkan Timur Tengah. Porsi itu sekarang akan dicari dari negara-negara lain yang tak terdampak penutupan Selat Hormuz.
tutur Bahlil.
Jadi, situasinya rumit. Di satu sisi, negara harus berjaga-jaga menghadapi potensi pembengkakan subsidi. Di sisi lain, ada ruang untuk memutar strategi agar ketahanan energi nasional tetap terjaga. Semuanya bergantung pada bagaimana konflik di sana berkembang, dan seberapa cepat kita bisa beradaptasi.
Artikel Terkait
BMKG Imbau Waspada Hujan Lebat dan Angin Kencang di Jabodetabek Siang-Sore Ini
Singapura Luncurkan Visa Khusus untuk Talenta AI dan Teknologi Mulai 2027
Gubernur DKI Siap Tertibkan Terminal Bayangan Jelang Mudik
Pengadilan Bebaskan Pengacara Junaedi Saibih dari Dakwaan Suap Hakim