Di Semarang, Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Abdul Mu'ti memberikan penjelasan terkait anggaran. Ia menegaskan, pihaknya telah mengajukan Anggaran Belanja Tambahan (ABT) senilai Rp 181 triliun ke DPR. Anggaran besar ini, ditegaskannya, bukan untuk program makan bergizi gratis atau MBG.
"Kami sudah paparan di DPR soal ABT ini," ujar Mu'ti, usai menghadiri rapat koordinasi di Kantor Pemprov Jawa Tengah, Selasa lalu.
"Kami dalam posisi menunggu keputusan (DPR)," tambahnya.
Lalu, untuk apa dana tambahan itu? Rupanya, prioritas pertama adalah menyelamatkan sekolah-sekolah yang kondisinya memprihatinkan. Banyak bangunan satuan pendidikan yang rusak dan perlu segera direvitalisasi.
"Kami mengajukan tambahan anggaran untuk revitalisasi 20 ribu Satuan Pendidikan," kata Sekjen PP Muhammadiyah itu.
Program kedua tak kalah penting: digitalisasi. Menyambut perintah Presiden, setiap sekolah akan dilengkapi dengan panel interaktif digital atau IFP. Tahun ini saja, rencananya lebih dari 325 ribu satuan pendidikan akan menerima perangkat tersebut.
"Untuk digitalisasi itu kita akan bagikan 3 IFP per satuan Pendidikan," jelasnya.
Selain infrastruktur, nasib guru juga jadi perhatian. Ada program beasiswa bagi guru yang belum menyandang gelar D4 atau S1. Mereka akan mendapat bantuan sebesar 3 juta rupiah per semester.
"Beasiswa ini akan diberikan untuk 150 ribu orang guru se Indonesia," kata Mu'ti.
Guru honorer pun tak luput. Dalam usulan ABT, insentif mereka diusulkan naik. Dari sebelumnya Rp 300 ribu, diharapkan bisa menjadi Rp 400 ribu per bulan.
Nah, meski ABT bukan untuk MBG, Mu'ti menekankan bahwa program makan bergizi itu tetap bagian krusial dari kerja kementerian. Program ini berkaitan erat dengan '7 Kebiasaan Indonesia Hebat' yang digaungkan, seperti bangun pagi, makan sehat, hingga rajin belajar.
"Jadi MBG memiliki kaitan yang sangat langsung dengan program Kementerian Dikdasmen," katanya.
Soal capaian, angka yang dilaporkan cukup menggembirakan. Hingga laporan terakhir, penerima MBG sudah mencapai 49,6 juta lebih siswa. Itu artinya sekitar 93% dari total siswa di tanah air. Dari sisi sekolah, sekitar 66,5% atau 288 ribu satuan pendidikan sudah menjalankan program ini.
"Jadi capaiannya sudah sangat tinggi," ucap Mu'ti.
Yang menarik, penelitian bersama Lab Sosio UI mengungkap dampak positif MBG. Program ini tak cuma memastikan asupan bergizi, terutama untuk anak dari keluarga kurang mampu, tapi juga menciptakan pengalaman makan bersama yang menyenangkan. Hasilnya? Semangat belajar mereka ikut terdongkrak.
Karena manfaatnya nyata, harapannya program seperti ini bisa berlanjut dan kualitasnya terus ditingkatkan ke depan.
Artikel Terkait
Ibu Muda di Bantul Lakban Mulut Balita demi ‘Refreshing’, Berujung Damai secara Kekeluargaan
Tiga Daerah Ajukan Lahan untuk Pembangunan Sekolah Rakyat, Kemensos Targetkan Konstruksi Oktober
Polda Riau Gelar Operasi Patuh Lancang Kuning 2026, 10 Pelanggaran Lalu Lintas Jadi Sasaran Utama
Pencurian Kabel Sinyal di Dua Titik Ganggu Operasional KRL Rangkasbitung–Tanah Abang, Polisi Tangkap Komplotan Pelaku