Setelah melalui periode penuh tekanan di bursa saham, para investor kini memasuki bulan Juni dengan sejumlah agenda penting yang berpotensi menggerakkan indeks. Di tengah ketidakpastian yang masih menyelimuti, beberapa saham anggota indeks LQ45 justru mencatatkan kinerja historis yang relatif baik pada bulan ini. Berdasarkan data selama 15 tahun terakhir, saham-saham seperti PT Indosat Tbk (ISAT), PT Japfa Comfeed Indonesia Tbk (JPFA), PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk (AMRT), PT Sarana Menara Nusantara Tbk (TOWR), dan PT ESSA Industries Indonesia Tbk (ESSA) menunjukkan rata-rata kinerja positif setiap Juni.
Saham ISAT menempati posisi tertinggi dengan rata-rata kenaikan 4,92 persen setiap Juni dalam periode tersebut. Saat ini, saham emiten telekomunikasi itu diperdagangkan di level Rp2.160 per unit, meskipun secara tahun berjalan masih terkoreksi 10,34 persen. Di urutan berikutnya, JPFA mencatat rata-rata kenaikan Juni sebesar 4,04 persen. Saham perusahaan pakan ternak dan pengolahan unggas itu berada di harga Rp2.450 per saham dan masih melemah enam persen sejak awal tahun.
AMRT juga termasuk saham yang secara historis cukup bersahabat pada Juni dengan rata-rata kenaikan 3,82 persen. Namun, saham pengelola jaringan ritel Alfamart itu masih mengalami tekanan cukup dalam, dengan koreksi sekitar 30 persen secara year-to-date ke level Rp1.150 per saham. Sementara itu, TOWR mencatat rata-rata kenaikan Juni sebesar 2,86 persen dalam 15 tahun terakhir. Saham operator menara telekomunikasi tersebut saat ini berada di harga Rp380 per saham dan menjadi salah satu yang mengalami penurunan terdalam dalam daftar ini, dengan pelemahan sekitar 35 persen sejak awal tahun.
Berbeda dengan saham lainnya, ESSA menjadi satu-satunya emiten yang masih membukukan kinerja positif sepanjang tahun berjalan. Saham ESSA yang diperdagangkan di level Rp670 per saham tercatat naik 14 persen secara year-to-date, sementara rata-rata kenaikannya pada Juni dalam 15 tahun terakhir mencapai 2,42 persen. Meski demikian, pelaku pasar perlu mencermati bahwa pola musiman tidak selalu berujung pada penguatan harga saham. Kinerja negatif mayoritas saham tersebut sejak awal tahun menunjukkan sentimen pasar saat ini jauh lebih dipengaruhi faktor fundamental, transparansi pasar, hingga kondisi makro dibanding pola historis semata.
Sebagai catatan, tekanan terhadap saham-saham LQ45 sepanjang tahun ini sejalan dengan koreksi Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang telah mencapai sekitar 28,20 persen. Pelemahan tersebut dipicu kombinasi sentimen domestik dan global, mulai dari isu aksesibilitas dan transparansi pasar modal Indonesia yang menjadi perhatian MSCI, rebalancing indeks global FTSE, ketegangan geopolitik antara Amerika Serikat dan Iran, pelemahan nilai tukar rupiah ke level terendah terhadap dolar AS, hingga kekhawatiran terhadap kondisi fiskal dalam negeri.
Secara historis, Juni sebenarnya termasuk bulan yang relatif positif bagi pasar saham Indonesia. Dalam 20 tahun terakhir, IHSG mencatat kenaikan pada 13 dari 20 periode Juni sejak 2006, atau memiliki probabilitas naik sekitar 62 persen. Rata-rata kinerja indeks pada bulan tersebut juga masih positif sebesar 0,29 persen. Namun, sejarah juga menunjukkan bahwa performa Juni tidak selalu konsisten. IHSG pernah melonjak 4,58 persen pada Juni 2016 dan 3,19 persen pada Juni 2020, tetapi juga sempat turun 3,46 persen pada Juni 2025 dan melemah 3,32 persen pada Juni 2022.
Tahun ini, perhatian investor akan tertuju pada sejumlah agenda penting. Pada 18 Juni, MSCI dijadwalkan merilis Global Market Accessibility Review yang mengevaluasi tingkat aksesibilitas pasar modal Indonesia bagi investor asing. Sehari setelahnya, perubahan indeks FTSE mulai berlaku efektif. Puncak perhatian pasar diperkirakan terjadi pada 23 Juni saat MSCI mengumumkan Annual Market Classification Review. Pasar menunggu keputusan apakah Indonesia akan masuk ke tahap peninjauan formal terkait potensi penurunan status dari pasar berkembang menjadi pasar frontier.
Selain itu, investor juga mencermati implementasi kebijakan baru terkait PT Danantara Sumberdaya Indonesia, perkembangan nilai tukar rupiah, serta dinamika konflik di Timur Tengah. Analis menilai setiap eskalasi baru, termasuk potensi gangguan di Selat Hormuz, dapat kembali meningkatkan volatilitas pasar dan memengaruhi arah pergerakan saham pada bulan ini. Keputusan pembelian atau penjualan saham sepenuhnya berada di tangan investor.
Artikel Terkait
Wall Street Ditutup Menguat Tipis di Tengah Ketidakpastian Negosiasi AS-Iran dan Gegap Gempita AI
Wall Street Ditutup Menguat Tipis di Tengah Ketegangan Iran dan Lonjakan Saham AI
Presiden Prabowo Copot Kepala dan Dua Wakil Kepala Badan Gizi Nasional, Tunjuk Nanik S. Deyang sebagai Pengganti
Debat Ketiga Calon Ketum HIPMI Digelar Rabu, Bahas Investasi dan Hilirisasi di Tengah Tekanan Ekonomi Global