Dua kapal tanker milik Pertamina yang saat ini terjebak di Selat Hormuz dilaporkan dalam keadaan aman. Begitu pula dengan seluruh awak kapal di dalamnya. Kabar ini disampaikan langsung oleh perusahaan di tengah ketegangan yang memuncak di kawasan itu.
Vice President Corporate Communication Pertamina, Muhammad Baron, memberikan penjelasannya di Gedung Pertamina, Jakarta Pusat, Selasa lalu. "Kami terus memantau. Prioritas utama adalah keselamatan para awak kapal, lalu keamanan aset. Sampai detik ini, semuanya masih aman," ujarnya.
Menurut Baron, sebenarnya ada empat kapal Pertamina yang berkaitan dengan wilayah tersebut. Namun, situasi dua kapal lainnya tidak terlalu mencemaskan karena posisinya berada di luar selat sempit yang memisahkan Iran dan Uni Emirat Arab itu.
"Yang di dalam Selat Hormuz memang ada dua. Kami terus mengawasi perkembangan," katanya menambahkan.
Di sisi lain, Pertamina bukan bekerja sendirian. Perusahaan mengaku terus berkoordinasi dengan berbagai pihak, termasuk Kementerian Luar Negeri, untuk memantau kondisi terkini. "Kami berterima kasih atas dukungan semua stakeholder, terutama Kemlu dan pihak-pihak terkait yang membantu mengamankan aset dan kru kami di sana," jelas Baron.
Lalu, apa yang sebenarnya terjadi hingga selat vital ini ditutup? Semuanya berawal dari eskalasi konflik baru-baru ini. Setelah serangan AS dan Israel yang menewaskan Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Khamenei pada Sabtu lalu, Iran membalas dendam.
Rudal-rudal diluncurkan ke Israel dan sejumlah negara Teluk yang menjadi basis militer AS, seperti Qatar dan Arab Saudi. Tak hanya itu, kelompok Hizbullah di Lebanon sekutu Iran juga menyatakan akan membela dan membalas kematian Khamenei.
Artikel Terkait
Pemerintah Alihkan Impor Minyak dari Timur Tengah ke AS Imbas Konflik
Gubernur DKI Siap Tertibkan Terminal Bayangan Jelang Mudik
Pengadilan Bebaskan Pengacara Junaedi Saibih dari Dakwaan Suap Hakim
Iran Klaim Serang Kantor Netanyahu dan Markas AU Israel dengan Rudal Kheibar