Nama ketiga mungkin adalah yang paling bersinar belakangan: Arda Guler. Wonderkid asal Turki ini tak cuma memukau lewat teknik individunya. Kepribadian religiusnya juga mencuri perhatian. Perhatikan saja selebrasi golnya yang ikonik, mengangkat jari telunjuk ke langit. Bagi Guler yang masih 21 tahun itu, itu adalah pengingat bahwa segala pencapaian datang atas izin Allah SWT.
Perlahan tapi pasti, musim ini Guler mulai menjelma menjadi pemain penting. Hingga pekan ke-26 Liga Spanyol 2025/2026, pelatih sudah mempercayainya sebagai starter sebanyak 21 kali. Itu pencapaian yang luar biasa untuk usianya.
Terakhir, Ferland Mendy. Bek kiri berusia 30 tahun asal Prancis ini adalah seorang mualaf yang taat. Sejak bergabung dengan Madrid pada 2019, ia selalu berusaha menjaga keseimbangan antara karier dan keyakinannya. Tahun ini pun ia jalani puasa dengan tekun, meski harus berjuang ekstra menjaga kondisi fisik.
Namun begitu, nasib lagi-lagi tak berpihak. Cedera parah yang dialaminya justru membuatnya lebih sering menyaksikan pertandingan dari luar lapangan. Situasi yang tentu menantang kesabarannya.
Keempat pemain ini, dengan segala dinamikanya, adalah bukti nyata. Di panggung sepak bola elit sekalipun, spiritualitas dan profesionalisme bisa berjalan beriringan. Mereka berpuasa, mereka berkompetisi, dan mereka tetap berusaha memberi yang terbaik untuk klub. Itulah perjuangan ganda yang layak diapresiasi.
Artikel Terkait
Pemerintah Alihkan Impor Minyak dari Timur Tengah ke AS Imbas Konflik
Gubernur DKI Siap Tertibkan Terminal Bayangan Jelang Mudik
Pengadilan Bebaskan Pengacara Junaedi Saibih dari Dakwaan Suap Hakim
Iran Klaim Serang Kantor Netanyahu dan Markas AU Israel dengan Rudal Kheibar