Memang, di saat yang sama, impor juga naik cukup tinggi, 18,21 persen menjadi USD21,20 miliar. Tapi kenaikan ini justru dibaca sebagai sinyal positif. Kenapa? Karena didominasi oleh bahan baku dan barang modal. Artinya, aktivitas investasi dan produksi di dalam negeri sedang bergeliat, bukan sekadar konsumsi.
Namun begitu, di balik semua data hijau ini, pemerintah nggak tutup mata. Ada satu titik panas yang terus diawasi dengan ketat: eskalasi konflik di Timur Tengah. Serangan AS dan Israel ke Iran akhir Februari lalu, yang berujung pada penutupan Selat Hormuz, adalah ancaman nyata bagi rantai pasok energi global.
Febrio menekankan, gangguan pasokan minyak dan gejolak pasar keuangan global berpotensi menekan ekonomi kita, terutama lewat lonjakan biaya logistik.
Jadi, meski angin domestik berhembus kencang ke arah yang baik, mata tetap waspada ke arah lautan global yang bisa berubah setiap saat.
Artikel Terkait
KPK Tangkap Bupati Pekalongan dalam Operasi Tangkap Tangan
BMKG Waspadai Tiga Bibit Siklon Tropis, Potensi Hujan Lebat dan Gelombang Tinggi
Kemlu Pantau Ketat 519 Ribu WNI di Timur Tengah Pascakericuhan Iran
Ribuan Penerbangan Dibatalkan, 300 Ribu Penumpang Terjebak di Bandara Teluk