Di sisi lain, Joao melihat kebijakan impor dari India ini sebagai sebuah terobosan. Tujuannya, menunjukkan bahwa Indonesia tak harus bergantung pada satu atau dua jenama tertentu saja. Tapi ia mengakui, langkah ini tentu mengusik ketenangan beberapa pihak.
“Saya pikir ini adalah sebuah terobosan yang mungkin membuat banyak orang yang akhirnya bisa merasa bahwa kuenya terganggu, sehingga mereka terganggu dengan importasi yang kami lakukan,” ucapnya.
Rencananya, Agrinas telah menyepakati kontrak pengadaan 105.000 unit kendaraan dari dua raksasa otomotif India. Rinciannya, 35.000 unit Scorpio Pik Up dari Mahindra & Mahindra. Sementara 70.000 unit lainnya datang dari Tata Motors, terbagi untuk model Yodha Pick-Up dan Ultra T.7 Light Truck.
Sejauh ini, sekitar 1.000 unit dikabarkan sudah tiba di Indonesia. Agrinas juga telah membayar uang muka yang tidak sedikit: 30 persen dari total kontrak, atau setara dengan Rp21,58 triliun. Angka ini hampir mendekati total anggaran impor yang disebut-sebut senilai Rp24,4 triliun.
Yang menarik, perusahaan mengklaim proyek ini justru menghasilkan efisiensi anggaran fantastis, hingga Rp46,5 triliun. Klaim efisiensi itu muncul dari perbandingan jika mereka membeli produk dari produsen yang sudah berpabrik di dalam negeri. Perhitungannya seperti apa? Itu yang masih jadi bahan perdebatan.
Artikel Terkait
Auditor BPKP Ungkap Kerugian Negara Rp1,5 Triliun dari Pengadaan Chromebook
Pemerintah Coret 11.014 Penerima Bansos karena Tidak Tepat Sasaran
Gus Ipul: Wacana Penebalan Bansos 2026 Masih Tahap Pembahasan, Tunggu Keputusan Presiden
AS Pertimbangkan Serangan Terbatas atau Blokade Maritim ke Iran