Komitmen untuk membangun infrastruktur pendukung pun tidak main-main. Altman sendiri pernah menyatakan kesiapan perusahaan untuk menginvestasikan dana hingga USD1,4 triliun guna membangun kapasitas komputasi setara 30 gigawatt.
"Angka itu setara dengan kebutuhan listrik sekitar 25 juta rumah di Amerika Serikat," ungkapnya.
Investasi sebesar itu dinilai krusial untuk menopang pengembangan dan operasional model AI generasi mendatang yang semakin kompleks dan haus sumber daya.
Tantangan di Balik Pertumbuhan yang Eksplosif
Namun, di balik angka-angka pendapatan dan pendanaan yang fantastis, tantangan operasional justru semakin membesar. Laporan terpisah mengungkapkan bahwa biaya untuk menjalankan model AI, atau yang dikenal sebagai biaya "inference", melonjak empat kali lipat sepanjang tahun 2025. Kenaikan biaya operasional yang tajam ini langsung berdampak pada kesehatan margin perusahaan.
Margin laba kotor yang disesuaikan (adjusted gross margin) OpenAI tercatat turun menjadi 33 persen pada 2025, setelah sebelumnya berada di level 40 persen di tahun 2024. Tekanan pada profitabilitas ini menjadi pengingat bahwa pertumbuhan yang eksplosif dalam industri AI diiringi dengan beban biaya yang sama besarnya. Meski demikian, ekspansi infrastruktur dan dukungan pendanaan jumbo dinilai para pengamat sebagai langkah tepat untuk memperkuat pondasi perusahaan dalam persaingan jangka panjang, meski harus melalui fase investasi yang berat terlebih dahulu.
Artikel Terkait
Anggaran Infrastruktur Berbasis Masyarakat Ditargetkan Rp5,48 Triliun pada 2026
Polisi Ungkap Modus Penyalahgunaan BBM dan LPG Subsidi, Rugikan Negara Rp1,2 Triliun
Mister Aladin Tawarkan Tiket Jakarta-Bangkok Rp 4,3 Jutaan untuk Akhir Mei 2026
Zaskia Adya Mecca dan Tim Hadapi Sidang Kosong, Jadwal Kasus Pemukulan Kembali Tak Jelas