“Itu luar biasa. Saya belum pernah bekerja dalam suasana segila ini sebelumnya. Tiga ratus juta orang yang benar-benar tergila-gila pada sepakbola,” kenang Kluivert.
Dengan nada blak-blakan, legenda Ajax dan Barcelona itu mengakui bahwa ia masih tertarik untuk kembali melatih Timnas Indonesia. Namun, ia pun realistis menyikapi situasi tersebut.
“Saya bekerja dengan sangat menyenangkan. Tetapi, sayangnya tidak mencapai apa yang kami targetkan,” ujarnya.
“Saya sebenarnya ingin melanjutkan, tetapi itu tidak memungkinkan,” ungkapnya dengan nada sedikit menyesal.
Setelah meninggalkan Indonesia, Kluivert sempat vakun sebelum akhirnya menemukan peran baru sebagai duta untuk yayasan yang didirikan oleh legenda negaranya, Johan Cruyff.
Warisan dan Kenangan yang Tertinggal
Kisah keduanya mencerminkan betapa Indonesia bukan sekadar tempat bekerja, melainkan sebuah pengalaman yang meninggalkan jejak emosional. Shin Tae-yong meninggalkan warisan berupa fondasi permainan dan perkembangan pemain muda, sementara periode singkat Kluivert mengukuhkan betapa fanatisme suporter Indonesia mampu memberi kesan mendalam bagi pelatih berkaliber internasional.
Ucapan "kangen" dari kedua pelatih ini bukan sekadar basa-basi diplomatis, melainkan cerminan dari pengalaman otentik mereka berinteraksi dengan denyut nadi sepakbola Indonesia. Hal ini menunjukkan bahwa di balik tekanan hasil pertandingan, ada ikatan manusiawi dan penghargaan terhadap budaya sepakbola sebuah bangsa yang bisa terbentuk.
Artikel Terkait
Anggaran Infrastruktur Berbasis Masyarakat Ditargetkan Rp5,48 Triliun pada 2026
Polisi Ungkap Modus Penyalahgunaan BBM dan LPG Subsidi, Rugikan Negara Rp1,2 Triliun
Mister Aladin Tawarkan Tiket Jakarta-Bangkok Rp 4,3 Jutaan untuk Akhir Mei 2026
Zaskia Adya Mecca dan Tim Hadapi Sidang Kosong, Jadwal Kasus Pemukulan Kembali Tak Jelas