"Dalam kesepakatan tersebut, Amerika Serikat setuju untuk menurunkan tarif resiprokal bagi Indonesia, sesuai dengan yang tercantum dalam Joint Statement sebelumnya," kata Airlangga.
"Hal ini juga membedakan perjanjian ART ini dengan negara lain, karena Amerika sepakat untuk mencabut pasal-pasal yang tidak berkaitan dengan kerja sama ekonomi."
Lalu, apa dampak konkretnya? Sebanyak 1.819 pos tarif produk Indonesia akan menikmati fasilitas tarif 0 persen di pasar raksasa itu. Daftarnya panjang: mulai dari kelapa sawit, kopi, kakao, rempah-rempah, hingga barang-barang bernilai tinggi seperti elektronik, semikonduktor, komponen pesawat terbang, serta apparel dan tekstil melalui skema kuota tarif.
Dampak sosial ekonominya diperkirakan sangat luas.
"Skema ini diperkirakan memberikan manfaat langsung bagi sekitar 4 juta pekerja Indonesia dan berdampak pada lebih dari 20 juta masyarakat Indonesia," papar Airlangga.
Di sisi lain, sebagai bagian dari prinsip resiprokal, Indonesia juga membalas dengan membebaskan tarif bea masuk untuk produk gandum dan kedelai asal AS. Ini strategi. Langkah ini diambil pemerintah untuk menjaga stabilitas harga bahan pangan pokok di dalam negeri, seperti bahan baku mi, tahu, dan tempe. Jadi, ada timbal balik yang diharapkan menguntungkan kedua belah pihak.
Ke depan, implementasi ART akan diawasi ketat. Forum bernama Council of Trade and Investment akan menjadi wadah resmi bagi kedua negara untuk membahas segala isu perdagangan dan investasi secara berkelanjutan. Semua ini, pada akhirnya, tentang membuka pintu yang lebih lebar dan menciptakan iklim yang lebih pasti.
Artikel Terkait
Proyeksi Laba Operasional Samsung Kuartal I-2026 Tembus Rp650 Triliun, Dipicu Demam AI
Roy Suryo Dukung Pelaporan Rismon, Minta Polisi Usut Video Tudingan Dana JK untuk Isu Ijazah Jokowi
Ketua Relawan Jokowi-Gibran Ungkap Pengakuan Rismon: Suara di Video Tuding JK Didanai Kasus Ijazah Adalah AI
Anggaran Infrastruktur Berbasis Masyarakat Ditargetkan Rp5,48 Triliun pada 2026