Namun begitu, Vatikan bukanlah satu-satunya. Beberapa sekutu tradisional AS seperti Inggris, Prancis, dan Norwegia juga mengambil langkah serupa, memilih untuk tidak ikut serta. Menurut sejumlah diplomat yang enggan disebut namanya, ada kekhawatiran mendalam soal struktur dewan itu kepemimpinan Trump yang permanen, mandatnya yang terlalu luas, dan potensi tumpang tindih dengan peran Perserikatan Bangsa-Bangsa.
Di sisi lain, penolakan Paus Leo XIV ini cukup menarik perhatian. Beliau adalah paus pertama yang lahir di Amerika Serikat, dan perdamaian memang menjadi salah satu pilar utama kepemimpinannya. Undangan untuk bergabung telah dia terima bulan lalu. Tapi rupanya, bagi pemimpin tertinggi Katolik ini, PBB tetaplah institusi yang paling tepat menjadi poros penyelesaian konflik dunia.
Paus menegaskan kembali komitmennya pada hukum humaniter internasional. Bahkan, dalam berbagai kesempatan sebelumnya, beliau telah menyuarakan keprihatinan bahwa perang seakan kembali menjadi tren yang mencemaskan. Bagi Tahta Suci, jalan menuju perdamaian sejati harus melalui saluran-saluran yang sudah mapan dan diakui bersama bukan melalui struktur baru yang penuh tanda tanya.
Artikel Terkait
Industri Plastik Waspadai Rantai Pasok Membengkak Imbas Diversifikasi Bahan Baku
Mentan Siapkan Lima Strategi Mitigasi Hadapi Ancaman El Nino 2026
PMI Mesir Anjlok ke Level Terendah, Sektor Swasta Non-Migas Tertekan Akibat Perang
Polda Metro Jaya Selidiki Insiden Kejar-kejaran dan Senggolan Mobil di Tol Pelabuhan