MUI Tegaskan Perbedaan Awal Ramadan Keniscayaan, Utamakan Kerukunan Umat

- Rabu, 18 Februari 2026 | 10:40 WIB
MUI Tegaskan Perbedaan Awal Ramadan Keniscayaan, Utamakan Kerukunan Umat

MURIANETWORK.COM - Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) KH Anwar Iskandar menegaskan bahwa perbedaan dalam menentukan awal dan akhir Ramadan merupakan suatu keniscayaan yang bersifat ilmiah. Menurutnya, yang jauh lebih penting daripada keseragaman adalah menjaga kerukunan dan keutuhan umat Islam di tengah perbedaan tersebut. Pernyataan ini disampaikan dalam konferensi pers usai Sidang Isbat di Jakarta, Rabu (18/2/2026).

Perbedaan sebagai Keniscayaan Ijtihadi

Anwar Iskandar menjelaskan bahwa perbedaan penentuan waktu puasa adalah hal yang wajar dalam kajian keilmuan Islam. Persoalan ini, ungkapnya, bersifat ijtihadi dan teknis, bukan menyangkut prinsip akidah atau keyakinan dasar. Dalam tradisi intelektual Islam, ruang untuk interpretasi seperti ini justru telah lama diakui.

"Perbedaan itu adalah keniscayaan karena sifatnya ijtihadi dan teknis. Karena itu, kemungkinan memulai atau mengakhiri puasa berbeda bisa saja terjadi," jelasnya.

Namun, lanjut Anwar, esensi yang harus dipegang teguh adalah semangat untuk menjaga persatuan. Di atas perbedaan metode hisab dan rukyat, nilai ukhuwah Islamiyah harus tetap dijaga.

"Namun yang paling penting adalah menjaga keutuhan sebagai umat Islam dengan saling memahami dan saling menghormati," tegasnya.

Menjaga Keutuhan Umat di Atas Segalanya

Editor: Redaksi MuriaNetwork


Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar