UNIFIL Peringatkan Nyawa Pasukan Perdamaian Terancam Eskalasi Israel-Hizbullah

- Selasa, 07 April 2026 | 02:00 WIB
UNIFIL Peringatkan Nyawa Pasukan Perdamaian Terancam Eskalasi Israel-Hizbullah

Suara peringatan datang dari Pasukan Sementara PBB di Lebanon, atau UNIFIL. Intensitas pertempuran antara Israel dan Hizbullah yang kian menjadi-jadi, mereka khawatir, benar-benar mengancam nyawa pasukan penjaga perdamaian yang bertugas di selatan Libanon.

Juru bicara UNIFIL, Kandice Ardiel, tak menyembunyikan kegelisahannya. Baku tembak di sekitar area operasi mereka terus terjadi tanpa henti. "Kedua belah pihak terus menerus menembakkan proyektil dan peluru ke arah atau di dekat posisi kami," tegasnya dalam keterangan resmi pada Minggu (5/4). Situasi itu sudah berakibat fatal: sejumlah personel PBB dilaporkan gugur dan luka-luka.

Yang bikin was-was, menurut Ardiel, serangan-serangan itu kerap dilancarkan dari lokasi yang sangat dekat dengan pos PBB. Hal ini, ujarnya, berpotensi memicu tembakan balasan yang bisa salah sasaran. Belum lagi keberadaan para kombatan yang berkeliaran di sekitar tempat pasukan penjaga perdamaian tinggal dan bekerja.

"Aksi-aksi ini membahayakan pasukan penjaga perdamaian," katanya lugas.

Lebih jauh, Ardiel mengingatkan semua pihak yang bertikai tentang kewajiban mereka. Keselamatan personel PBB harus dijamin, termasuk dengan menghormati status kekebalan wilayah yang berada di bawah bendera Perserikatan Bangsa-Bangsa. UNIFIL mendesak keras agar kekerasan dihentikan. Langkah konkret menuju gencatan senjata harus segera diambil.

"Tidak ada solusi militer untuk konflik ini," tekan Ardiel. Misi PBB itu menegaskan, perang yang berkepanjangan hanya akan memperburuk keadaan. Korban jiwa akan terus berjatuhan, kerusakan makin meluas, dan penderitaan manusia semakin dalam.

Konflik ini sendiri kembali memanas belakangan ini. Israel diketahui melancarkan serangan udara dan darat di Lebanon selatan, meski sebenarnya kesepakatan gencatan senjata sudah berlaku sejak November 2024. Pemicunya adalah insiden lintas batas yang dilakukan Hizbullah awal Maret lalu.

Di sisi lain, kelompok Hizbullah pun tak tinggal diam. Sejak Maret, mereka membalas dengan gempuran roket ke wilayah Israel. Eskalasi ini juga tak lepas dari terbunuhnya Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatullah Ali Khamenei, dalam serangan udara gabungan AS dan Israel akhir Februari lalu. Situasi di perbatasan itu kini seperti bara dalam sekam, siap meledak kapan saja.

Editor: Lia Putri

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar