"Kita seolah mempermudah pekerjaan mereka untuk mengisolasi Gaza dari dunia luar tanpa harus mengotori tangan mereka sendiri untuk mengusir kita," katanya.
Memang, tantangannya tidak kecil. Pengalaman pahit di UNIFIL Lebanon menjadi pelajaran, di mana Israel kerap menghambat posisi perwira TNI. Namun begitu, skema International Security Force (ISF) kali ini dinilainya punya dinamika berbeda. Posisi tawar kita tidak sama.
Saat ini, persetujuan Israel sedang dipaksa melalui tekanan kolektif di forum BoP. Di sinilah peran kunci Indonesia bekerja.
Duduk di meja perundingan justru menjadi senjata untuk menggagalkan veto politik Israel yang kerap menolak pasukan dari negara Muslim. Absennya Indonesia? Itu justru memuluskan niat faksi kanan tersebut.
"Consent Israel sedang dipaksa hadir melalui tekanan internasional di Board of Peace. Absennya kita di meja perundingan justru mempermudah Israel menggunakan veto politiknya untuk menolak pasukan negara Muslim, persis seperti keinginan faksi kanan mereka," pungkas Khairul.
Artikel Terkait
Lima Oknum TNI Hadapi Proses Hukum Internal Terkait Pengeroyokan di Kafe Toraja
Tips Hindari Kekacauan Saat Libur Panjang Akhir Pekan
Harga Cabai Anjlom, Bawang Merah dan Ayam Naik Tipis Menurut BI
Harga Emas di Pegadaian Masih Stabil, Galeri24 dan UBS Bertahan di Rp 2,87 Juta per Gram