Pergerakan IHSG sepanjang pekan ini cukup berat. Indeks gabungan itu akhirnya ditutup di level 7.026,78, setelah anjlok hampir satu persen. Cuma satu hari hijau, sisanya tiga hari penuh tekanan. Perdagangan memang lebih singkat karena libur, tapi itu tak cukup untuk meredam pelemahan.
Beban terbesarnya? Tentu saja dari saham-saham besar, yang bobotnya signifikan dalam perhitungan indeks. Mereka justru jadi penekan utama.
Ambil contoh dari kelompok konglomerasi. Saham Barito Renewables Energy (BREN) ambles 13 persen lebih, menyumbang kontribusi negatif hampir 27 poin untuk IHSG. Harganya merosot ke Rp4.800 per saham. Tak kalah dalam, saham Bayan Resources (BYAN) milik taipan batu bara Low Tuck Kwong juga terperosok 13,59 persen. Pelemahan itu mencukur hampir 27 poin dari indeks.
Grup Sinarmas lewat Sinar Mas Multiartha (SMMA) ikut melemah, mengurangi indeks lebih dari 7 poin. Dari Grup Salim, Amman Mineral (AMMN) turun 3,09 persen. Sementara dari CT Corp, Bank Mega (MEGA) anjlok hampir 9,4 persen.
Yang cukup mengejutkan, tekanan juga datang dari sektor yang biasanya jadi penopang: perbankan besar. Empat bank pelat merah semuanya catatkan warna merah pekan ini.
Bank BRI (BBRI) turun 2,92 persen dan menyumbang tekanan lebih dari 15 poin. Bank BCA (BBCA) melemah 1,87 persen, mengurangi hampir 12 poin. Bank Mandiri (BMRI) dan Bank BNI (BBNI) juga ikut menyeret indeks ke bawah dengan kontribusi negatif masing-masing.
Di sisi lain, aliran dana asing memperlihatkan gambaran yang serupa. Catatan dari pasar reguler menunjukkan net sell mencapai Rp2,88 triliun dalam sepekan. Angka yang tidak kecil.
Lalu, apa pemicu semua ini? Sentimen pasar secara umum memang sedang muram. Pemicu utamanya adalah ketegangan geopolitik yang kembali memanas. Pernyataan Presiden AS Donald Trump soal kemungkinan serangan militer lanjutan ke Iran dalam dua hingga tiga pekan ke depan langsung mengguncang kepercayaan investor.
Kekhawatiran akan gangguan pasokan energi global membuat harga minyak melonjak dan pasar saham Asia, termasuk Indonesia, bertekuk lutut.
Menurut sejumlah analis, situasi ini membuat investor harus lebih berhati-hati. Analis Nomura, misalnya, memberi catatan khusus untuk saham-saham di India, dan dalam tingkat lebih ringan, Indonesia serta Filipina. Risiko terhadap pertumbuhan dan laba perusahaan dinilai meningkat di tengah gejolak ini.
Sebaliknya, pasar seperti Malaysia, Hong Kong, dan China dinilai punya ketahanan yang relatif lebih baik.
Sementara itu, tim analis BRI Danareksa melihat situasi ini menciptakan sinyal yang campur aduk. Ketidakpastian arah konflik dan pergerakan pasar ke depan, menurut mereka, semakin meningkat. Investor sebaiknya waspada.
Perlu diingat, keputusan untuk membeli atau menjual saham sepenuhnya ada di tangan Anda sebagai investor.
Artikel Terkait
BSI Maslahat dan MyFundAction Jalin Kerja Sama Optimalkan Distribusi Dana ZIS Berpotensi Rp300 Triliun per Tahun
Laporan Keuangan Gabungan Seluruh BUMN di Bawah Danantara Baru Rampung Akhir Kuartal III 2026
Penjualan Melonjak, Laba Bersih Mustika Ratu Tembus Rp1,11 Miliar pada Kuartal I-2026
Surge Resmi Luncurkan IRA-Internet Rakyat, Tawarkan Internet 100 Mbps Rp100 Ribu per Bulan di Jawa, Maluku, dan Papua