Gubernur Pramono Soroti Peran Muhammadiyah dalam Modernisasi Tradisi Halal Bihalal

- Sabtu, 04 April 2026 | 14:00 WIB
Gubernur Pramono Soroti Peran Muhammadiyah dalam Modernisasi Tradisi Halal Bihalal

Gubernur Pramono Ungkap Modernisasi Halal Bihalal oleh Muhammadiyah

Sabtu pagi (4/4/2026) lalu, suasana Gedung Dakwah Muhammadiyah DKI Jakarta ramai oleh tamu. Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung, hadir dalam acara Silaturahim Idulfitri 1447 H yang digelar di sana. Dalam sambutannya, Pramono justru terbang kenangan ke masa kecilnya di Kediri, Jawa Timur.

Dia bercerita, dulu saat Lebaran tiba, dirinya seperti anak-anak lain pada umumnya. Berkeliling dari rumah ke rumah tetangga. Tujuannya sederhana: bermaaf-maafan, sekalian mengumpulkan kue lebaran dan tentu saja, uang saku. Ritual itu berlangsung tahun demi tahun.

Namun begitu, ada perubahan yang kemudian dia amati. Muhammadiyah, menurut penglihatannya, memperkenalkan cara baru. Alih-alih berkeliling, acara halal bihalal mulai dikonsolidasikan. Digelar di aula atau gedung pertemuan, lengkap dengan tausiyah dari para ulama. "Modernisasi halal bihalal itu betul-betul saya bersaksi dilakukan oleh Muhammadiyah," tegas Pramono Anung.

"Bukan halal bihalal tapi alal bialal atau lebih khusus lagi adalah chalal bichalal pada waktu itu,"

Gubernur ke-16 DKI itu juga mengungkap fakta menarik. Kata 'halal bihalal' ternyata tak ditemukan dalam literatur Islam klasik. Asal-usulnya justru muncul dari tulisan di Suara Muhammadiyah pada 1924. Setelah Indonesia merdeka, tepatnya di tahun 1948, ejaan 'chalal bi chalal' itu pun berevolasi. Berubah menjadi 'halal bihalal' seperti yang kita kenal sekarang.

Di sisi lain, Ketua PWM DKI Jakarta, Abu Bakar, memberikan penjelasan lebih rinci. Menurutnya, istilah ini pertama kali diperkenalkan oleh seorang warga Muhammadiyah asal Gombong bernama Rachmad, masih di tahun 1924 itu. Ejaan awalnya memang 'Chalal Bichalal' atau 'Alal Bahalal'.

"Tepatnya pada 1926 atau bertepatan dengan 1 Syawal 1344 Hijriah, istilah 'Halal Bihalal' kembali muncul dalam Suara Muhammadiyah. Dalam edisi tersebut, istilah ini digunakan lebih jelas sebagai ajakan untuk bersilaturahmi, meski masih sebatas gagasan internal dan belum menjadi keputusan resmi organisasi,"

Barulah pada 1948 istilah ini meluas secara nasional. Popularitasnya melejit berkat peran tokoh Nahdlatul Ulama, KH. Wahab Chasbullah, bersama Presiden Soekarno. Mereka mempopulerkannya dalam forum-forum kebangsaan di Istana Negara.

Bagi Abu Bakar, silaturahim seperti yang digelar hari itu punya nilai strategis yang dalam. Pertemuan semacam ini, katanya, memperkuat semangat rahmah mempererat hubungan dengan landasan kasih sayang yang melampaui ikatan darah. Juga menguatkan ukhuwah, baik antar sesama Muslim maupun sesama manusia secara umum.

"Pertemuan ini juga memperkuat niat untuk saling memaafkan dan melakukan ishlah (perbaikan hubungan), sekaligus membersihkan hati yang telah ditempa melalui tarbiyah selama satu bulan penuh lewat ibadah puasa dan berbagai amalan di bulan Ramadan,"

Jadi, dari sekadar tradisi lokal dan gagasan di media internal, praktik halal bihalal akhirnya tumbuh menjadi budaya nasional. Sebuah warisan yang terus hidup, menyatukan orang dari berbagai latar, setiap kali Syawal tiba.

Editor: Erwin Pratama

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar