Jakarta - Tren kebakaran hutan dan lahan (karhutla) belakangan ini memang menunjukkan grafik yang menggembirakan. Data dari BNPB mencatat penurunan terus-menerus sejak 2015, baik dari sisi luas area terbakar maupun jumlah kejadian. Tapi jangan terlalu cepat berpuas diri. Ada ancaman besar yang mengintai di depan mata, tepatnya pada tahun 2027.
Peringatan itu disampaikan langsung oleh Kepala BNPB, Letjen TNI Suharyanto, dalam sebuah rapat kerja dengan Komisi VIII DPR di Senayan, Selasa lalu. Di tengah paparan tentang penurunan bencana hidrometeorologi kering, Suharyanto justru mewanti-wanti tentang siklus alam yang tak boleh diabaikan.
"Bencana hidrometeorologi kering atau karhutla. Ini kami punya data dari mulai tahun 2015, tahun 2025, alhamdulillah menurun terus baik jumlah yang terbakar maupun luas lahannya. Tentu saja ini kerja sama semua pihak," ujarnya.
Namun begitu, nada bicaranya berubah ketika menyentuh tahun 2027. Menurutnya, tahun itu bakal menjadi periode kritis.
"Memang dari segi cuacanya yang menjadi tantangan kami adalah bukan 2024, 2025, dan 2026 tetapi 2027. Karena di 2027 itulah siklus empat tahunan terjadi musim kering," tegas Suharyanto.
Artikel Terkait
BNPB Akui Anggaran Mitigasi Minim, Andalkan Pinjaman Luar Negeri
Beras Indonesia Siap Temani Jamaah Haji di Tanah Suci
Target Tarif Nol Persen dengan Inggris, Pemerintah Pasang Target Satu Tahun
AHY Ungkap Makna Lebih Dalam di Balik Program Gentengisasi Prabowo