“Tujuan kami adalah memastikan Indonesia tetap atraktif, kompetitif, dan produktif. Fokus kami tertuju pada tiga pilar utama yakni Kepastian (Certainty), Kapabilitas (Capability), dan Modal (Capital),” jelas Arsjad.
Gelaran summit ini juga diwarnai peluncuran Business 57 (B57 ) Asia-Pacific Regional Chapter. Inisiatif ini bertujuan memperkuat konektivitas ekonomi antarnegara Islam, dengan Indonesia diposisikan sebagai simpul utama di kawasan Asia-Pasifik.
Presiden Islamic Chamber of Commerce and Development (ICCD) Abdullah Saleh Kamel menyambut baik langkah ini.
”Dunia usaha, investasi, perdagangan, dan keuangan, dapat memainkan peran utama dalam memajukan masyarakat kita. Visi ini sejalan dengan komitmen para pemimpin politik di negara-negara seperti Arab Saudi, Indonesia, Malaysia, Turki, dan Pakistan yang secara aktif berupaya memberdayakan sektor swasta melalui reformasi legislatif dan infrastruktur digital,” kata Abdullah.
Lalu, bagaimana analisis para ekonom? Chief Economist IBC Denni Purbasari melihat kombinasi demokrasi, populasi muda, dan pertumbuhan stabil di angka 5,1-5,2 persen sebagai daya tarik kuat.
“Komitmen pemerintah terhadap openness dan reform, kestabilan ekonomi makro dan politik, menjadi faktor yang menarik bagi investor asing untuk masuk, baik melalui direct investment maupun portofolio,” ungkap Denni.
Menurutnya, peluang investasi kini makin melebar. Program prioritas pemerintah seperti ketahanan pangan, energi, dan kesehatan membuka ruang kemitraan yang luas. Tak cuma seputar rantai pasok kendaraan listrik yang sedang naik daun.
“Sektor yang menarik tidak hanya terkait rantai pasok kendaraan listrik, tapi juga di sektor tanaman pangan, hortikultura, peternakan, perkebunan, dan perikanan yang mendukung ketahanan pangan, sektor energi terbarukan, kesehatan, jasa keuangan, bahkan sektor pendidikan termasuk vokasi yang semakin serius ditingkatkan oleh pemerintah agar skill masyarakat Indonesia mampu menjawab tantangan,” paparnya.
Jadi, meski angin global tak selalu bersahabat, narasi tentang Indonesia sebagai magnet investasi ternyata masih cukup kuat. Setidaknya, itu yang tercium dari hajatan IES 2026.
Artikel Terkait
Suite Class KAI Meledak: Penumpang Naik Hampir 90% dalam Dua Tahun
Slowakia Tawarkan Paket Lengkap untuk PLTN Pertama Indonesia
Tiket Mudik Lebaran 2026 Ludes 382 Ribu, H-2 dan H-3 Paling Diburu
Perminas Resmi Diresmikan, Fokus Garap Tanah Jarang yang Terpendam