Eggi Sudjana Buka Suara: Saya Bukan Minta Maaf, No Way!

- Sabtu, 17 Januari 2026 | 06:50 WIB
Eggi Sudjana Buka Suara: Saya Bukan Minta Maaf, No Way!

Sebelum terbang ke luar negeri untuk pengobatan, Eggi Sudjana akhirnya angkat bicara. Itu terjadi Jumat lalu, 16 Januari 2026. Advokat senior yang juga dikenal sebagai aktivis itu memberikan klarifikasi lewat tayangan Kompas TV, mencoba meluruskan berbagai spekulasi yang beredar.

Spekulasi itu muncul setelah pertemuannya dengan Presiden Joko Widodo di Solo. Pertemuan yang, tak lama kemudian, berujung pada terbitnya SP3 untuk kasus dugaan fitnah ijazah palsu yang menjeratnya.

Nah, di sinilah Eggi bersikeras. Ia menegaskan bahwa penyelesaian lewat Restorative Justice itu bukanlah bentuk permohonan maaf atau penyerahan diri. Bukan sama sekali. Baginya, itu murni sebuah kesepakatan hukum yang berdiri di atas argumentasi konstitusional. "Saya datang bukan untuk minta maaf, no way," tegas Eggi.

"Saya sampaikan kepada beliau bahwa saya tidak pantas ditersangkakan."

Ia lantas membeberkan alasannya. Menurut Eggi, status tersangka yang disematkan kepadanya melanggar prosedur. Ia merujuk pada hak imunitas advokat dalam UU No. 18/2003, plus posisinya sebagai pelapor awal yang mestinya dilindungi UU Perlindungan Saksi dan Korban. Intinya, ia merasa proses hukum terhadap dirinya cacat dari awal.

Dalam dialog itu, Eggi bahkan mengingatkan Jokowi tentang sumpah jabatan presiden. "Pertanyaan seriusnya, kenapa undang-undang yang ada justru dilanggar dalam proses penyidikan saya?" ujarnya. Tanggapan Jokowi, kata Eggi, santun saja. "Beliau merespons dengan sangat santun, 'Inggih, inggih'," tambahnya.

Lalu, bagaimana pertemuan itu bisa menghasilkan jalan damai? Eggi punya analoginya sendiri. Ia menyebutnya sebagai metode dialog dan tabayun. "Bagaimana konflik antara benar dan batil bisa selesai dengan kedamaian? Caranya adalah dialog," jelasnya.

Di sisi lain, Eggi justru memuji sikap Jokowi. Ia mengakui akhlak presiden itu dalam menyambutnya. "Secara akhlak, saya harus akui beliau luar biasa. Beliau menerima kami dengan sangat baik, padahal beliau merasa sebagai pihak yang difitnah," ucap Eggi. "Saya merasa dalam hal akhlak, Jokowi jauh lebih baik."

Pujian itu tak lantas membuatnya luncur terhadap semua pihak. Eggi menyindir sejumlah nama yang dianggapnya cari sensasi. "Kan ada Roy Suryo dan kawan-kawan yang merasa jagoan, dia lawan aja tuh," sindirnya dengan nada khas.

Yang menarik, dalam pertemuan penting itu, soal keaslian ijazah justru nyaris tak tersentuh. Eggi mengungkapkan, pembicaraan sudah melompat ke tahap saling memahami. "Tidak ada pembahasan soal ijazah di sana. Kata Pak Jokowi, itu tidak penting lagi, yang penting bicara ke depan," ungkapnya.

Dengan SP3 yang sudah keluar, Eggi menganggap persoalan hukumnya rampung secara administratif. Meski begitu, prinsip-prinsip hukum yang ia perjuangkan tetap dipegangnya.

Sebelum berangkat, ia juga menertibkan pihak-pihak yang dianggapnya ikut nimbrung cari popularitas. Ia tegas menunjuk Elida Netti sebagai pengacara yang menangani urusan hukumnya. Untuk urusan komunikasi publik, ia serahkan sepenuhnya kepada wartawan senior Agusto.

"Suara resmi ada pada Agusto. Jangan ada lagi yang mengaku-ngaku mengurus perkara ini mewakili saya. Yang bekerja keras itu Bu Eli. Jangan ada yang sok merasa setara atau mengaku pendiri, padahal dulu datang meminta tolong."

Pernyataan terakhirnya itu terdengar tajam, sekaligus menjadi penegasan sebelum ia meninggalkan Indonesia untuk sementara waktu.

Editor: Agus Setiawan

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar