Trump Ancam Serang Iran Habis-habisan Jika Tak Segera Capai Kesepakatan Damai

- Kamis, 11 Juni 2026 | 03:15 WIB
Trump Ancam Serang Iran Habis-habisan Jika Tak Segera Capai Kesepakatan Damai

Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, mengeluarkan ancaman untuk melancarkan serangan habis-habisan terhadap Iran apabila Teheran terus mengulur waktu dalam mencapai kesepakatan damai. Peringatan keras ini muncul setelah militer AS melancarkan serangan ke sejumlah lokasi di Iran pada Rabu, 10 Juni 2026, yang memicu eskalasi konflik bersenjata terbesar kedua antara kedua negara sejak gencatan senjata disepakati pada 8 April lalu.

Duta Besar AS untuk NATO, Matthew Whitaker, menyampaikan bahwa Trump siap mengerahkan seluruh potensi militer yang dimiliki jika Iran tetap menolak mencapai kesepakatan dalam jangka waktu yang dinilai wajar oleh Washington. “Jika Iran tidak bersedia membuat kesepakatan dalam jangka waktu bijaksana, maka dia akan menggunakan seluruh kekuatan militer yang luar biasa, yang dimiliki AS, untuk membuat situasi di mana Iran akan membuat kesepakatan,” ujar Whitaker dalam wawancara dengan Fox News pada Kamis, 11 Juni 2026.

Sebelumnya, melalui unggahan di akun Truth Social, Trump menilai Iran terlalu lama bernegosiasi dan tidak menunjukkan itikad untuk segera menyepakati perdamaian. Ia pun memperingatkan bahwa Teheran harus menghadapi konsekuensi berat atas sikap tersebut. “Si pengganggu Timur Tengah telah mati!!! Mereka terlalu lama bernegosiasi untuk mencapai kesepakatan yang akan menguntungkan mereka, sekarang mereka harus membayarnya,” tulis Trump.

Ketegangan antara kedua negara meningkat setelah AS menyerang beberapa lokasi di Iran. Serangan tersebut dipicu oleh tuduhan Trump bahwa militer Iran menembak jatuh helikopter tempur AH-64 Apache yang sedang berpatroli di dekat Selat Hormuz pada Senin. Dua kru helikopter dilaporkan berhasil diselamatkan menggunakan drone laut. Iran kemudian membalas dengan menargetkan pangkalan-pangkalan militer AS di Yordania serta sejumlah negara Teluk, menggunakan rudal dan drone yang menyasar 22 lokasi di Kuwait, Bahrain, dan Yordania.

Trump menegaskan bahwa pembalasan yang dilakukan AS merupakan respons yang layak terhadap tindakan Iran. “Saya yakin pembalasannya harus sangat keras, sangat dahsyat, dan itulah yang terjadi kali ini,” ujar Trump dalam wawancara dengan ABC News.

Di sisi lain, Iran menuduh AS justru merusak upaya diplomatik yang sedang berlangsung. Kementerian Luar Negeri Iran menyatakan bahwa tindakan Washington telah menghambat berbagai inisiatif internasional untuk mengakhiri konflik. “Sayangnya, AS merusak proses diplomatik ini melalui pesan-pesan kontradiktif yang dikirimkannya, perubahan sikap, dan tuntutan berulang-ulang, dan yang terburuk, melalui pelanggaran gencatan senjata berulang kali,” kata Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baghaei.

Menurut Baghaei, setiap proses diplomatik akan sulit berhasil apabila diiringi penggunaan kekerasan dan tindakan yang dianggap melanggar hukum internasional di lapangan. Bentrokan terbaru ini menjadi ujian serius bagi stabilitas kawasan Timur Tengah yang telah lama dilanda ketegangan.

Editor: Yuliana Sari

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar