Pernyataan itu diperkuat oleh pejabat senior AS lainnya yang dengan tegas menyatakan Trump benar-benar tidak ingin menyerang. Bahkan, tiga penasihat dekatnya menganggap langkah militer sekarang sebagai sebuah kesalahan besar. "Banyak orang di lingkaran dekat Trump skeptis tentang langkah tersebut," kata salah satu sumber. Mereka khawatir, operasi semacam itu justru akan merusak posisi dan kebijakan AS, baik di kawasan maupun di panggung internasional.
Lalu bagaimana dengan jalur diplomasi? Soal negosiasi nuklir, kabarnya mentok. Para pejabat AS menyebut Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, menolak persyaratan yang diajukan Washington. Meski begitu, Trump disebut masih terus mencari celah untuk solusi damai.
Ada juga kabar yang dibantah keras. Sumber-sumber tadi menyangkal bahwa Trump mengirim utusannya untuk Timur Tengah, Steve Witkoff, bersama penasihat Jared Kushner, untuk bertemu Menlu Iran Abbas Araghchi. Padahal, Axios sebelumnya melaporkan Witkoff akan menemui Araghchi pada Jumat mendatang guna membahas prospek kesepakatan nuklir. Jadi, mana yang benar? Situasinya masih simpang siur.
Yang jelas, untuk saat ini, niat perang dari Washington tampaknya belum ada. Ketegangan ada, retorika menggelegar, tapi langkah nyatanya masih di jalur yang lebih hati-hati.
Artikel Terkait
Tiket Mudik Lebaran 2026 Ludes 382 Ribu, H-2 dan H-3 Paling Diburu
Perminas Resmi Diresmikan, Fokus Garap Tanah Jarang yang Terpendam
Jelajah Hainan: Liburan Tanpa Visa Mulai Rp 4,1 Juta
Garuda Futsal Siap Hadang Jepang di Indonesia Arena