Jakarta, Senin lalu – Ruang rapat Komisi XII DPR RI ramai dengan pembahasan serius soal masa depan industri baterai nasional. Aditya Farhan Arif, sang Direktur Utama Indonesia Battery Corporation (IBC), hadir dengan satu misi jelas: mendorong penyesuaian regulasi. Tanpa dukungan hukum dan keuangan yang kuat, menurutnya, cita-cita hilirisasi nikel dari hulu ke hilir bakal tersendat.
Persoalannya tidak sederhana. Aditya mengungkapkan, menggenjot produksi baterai terbentur pada soal pasokan material. Dan itu, tentu saja, berimplikasi pada biaya ekonomi yang harus ditanggung perusahaan. Biaya yang tidak kecil.
Karena itulah, dia menekankan pentingnya insentif dalam kebijakan hilirisasi nikel. Tanpa itu, langkah industri ini bisa terasa berat.
Dalam Rapat Dengar Pendapat itu, Aditya secara khusus menyampaikan permohonan dukungan.
ujarnya, menyampaikan poin konkret yang diharapkan dapat meringankan beban korporasi.
Artikel Terkait
DPR Gelar Rapat Khusus, Polisi Ungkap Foto Pelaku Penyiraman KontraS
Empat Prajurit BAIS TNI Ditahan Terkait Penyiraman Air Keras ke Aktivis KontraS
Menkes Imbau Pemudik Motor Istirahat Tiap 2-3 Jam untuk Antisipasi Kecelakaan di Jalur Arteri
Askrindo Berangkatkan Ratusan Pemudik Gratis dengan Asuransi Jelang Lebaran 2026