Jakarta, Senin lalu – Ruang rapat Komisi XII DPR RI ramai dengan pembahasan serius soal masa depan industri baterai nasional. Aditya Farhan Arif, sang Direktur Utama Indonesia Battery Corporation (IBC), hadir dengan satu misi jelas: mendorong penyesuaian regulasi. Tanpa dukungan hukum dan keuangan yang kuat, menurutnya, cita-cita hilirisasi nikel dari hulu ke hilir bakal tersendat.
Persoalannya tidak sederhana. Aditya mengungkapkan, menggenjot produksi baterai terbentur pada soal pasokan material. Dan itu, tentu saja, berimplikasi pada biaya ekonomi yang harus ditanggung perusahaan. Biaya yang tidak kecil.
Karena itulah, dia menekankan pentingnya insentif dalam kebijakan hilirisasi nikel. Tanpa itu, langkah industri ini bisa terasa berat.
Dalam Rapat Dengar Pendapat itu, Aditya secara khusus menyampaikan permohonan dukungan.
ujarnya, menyampaikan poin konkret yang diharapkan dapat meringankan beban korporasi.
Artikel Terkait
Pertamina NRE Resmi Masuk ke Pasar Filipina, Akuisisi 20% Saham Raksasa Surya CREC
Tujuh Orang Diduga Keroyok Karyawan Toko Usai Insiden Tabrakan di Ampera Raya
Jakarta Siap Jadi Tuan Rumah Pertemuan Puncak Penasihat Bisnis APEC 2026
Dzikry Lazuardi Tinggalkan Persija, Jawab Panggilan Herdman ke Timnas