Langkah pembukaan ini punya latar belakang yang kompleks. Ia datang tak lama setelah Israel mengumumkan penemuan dan pemakaman jenazah Ran Gvili, sandera terakhir yang ditahan di Gaza. Sebelumnya, Israel bersikukuh tidak akan membuka Rafah sebelum jenazah Gvili dikembalikan.
COGAT sendiri menyebut ini baru 'fase uji coba awal'. Persiapan, kata mereka, sedang dilakukan untuk mengoperasikan penyeberangan ini sepenuhnya dalam waktu dekat. Tapi sampai detik ini, belum ada kejelasan soal berapa banyak warga Palestina yang benar-benar akan diizinkan berpindah.
Di sisi lain, tekanan dari komunitas internasional terus mengalir. PBB mendesak agar Rafah dibuka sepenuhnya bukan cuma untuk pergerakan orang, tapi juga untuk kargo kemanusiaan dan barang-barang sektor swasta. Bagi mereka, akses ini penting banget untuk menghidupkan kembali perekonomian Gaza yang sudah remuk redam.
Dalam sebuah rapat di Dewan Keamanan PBB, Wakil Koordinator Timur Tengah PBB, Ramiz Alakbarov, menyoroti berbagai kendala yang dihadapi para pekerja kemanusiaan. Mulai dari penundaan kargo, penolakan di perbatasan, sampai rute distribusi di dalam Gaza yang sangat terbatas.
Jadi, meski secercah harapan akhirnya muncul, banyak yang menilai langkah Israel ini masih terlalu kecil. Jauh dari cukup untuk mengatasi krisis kemanusiaan yang terus memburuk di Gaza. Rafah mungkin terbuka, tapi jalannya masih panjang dan berliku.
Artikel Terkait
PMI Manufaktur Indonesia Melonjak ke 52,6, Sinyal Ekspansi Kian Kuat Awal 2026
Di Balik Pantai dan Kuil: 5 Fakta Mengejutkan yang Membentuk Wajah Thailand
Geliat Awal Tahun: 1,15 Juta Wajib Pajak Sudah Lapor SPT 2025
Proses Panjang Menanti Pengganti Pimpinan OJK