Peringatan MSCI Jadi Pemicu, Luhut: Saatnya Transformasi Pasar Modal

- Senin, 02 Februari 2026 | 10:06 WIB
Peringatan MSCI Jadi Pemicu, Luhut: Saatnya Transformasi Pasar Modal

Peringatan dari Morgan Stanley Capital International (MSCI) terhadap pasar modal Indonesia sempat membuat ruang gerak IHSG berwarna merah. Tapi, bagi Luhut Binsar Pandjaitan, situasi ini justru bisa jadi momentum. Ketua Dewan Ekonomi Nasional itu melihatnya sebagai peluang untuk mentransformasi pasar modal kita.

Menurutnya, alarm dari MSCI itu harusnya jadi pendorong. “Kita membutuhkan pemimpin yang berani mengeksekusi perubahan dan menegakkan aturan. Pasar modal harus menjadi pilar pertumbuhan ekonomi Indonesia yang berkeadilan dan dapat dinikmati oleh masyarakat luas,” tegas Luhut.

Dia tak menampik bahwa koreksi indeks terjadi. Namun begitu, dia mengimbau masyarakat dan investor domestik untuk tetap tenang. Jangan sampai terbawa sentimen jangka pendek yang justru merugikan. Pemerintah, bersama OJK dan BEI, sudah bersiap mengambil langkah.

Luhut berjanji DEN akan mendukung penuh langkah perbaikan itu. Fokusnya jelas: menciptakan pasar yang sehat, transparan, dan kompetitif. Beberapa tindakan konkret yang akan dijalankan antara lain memperketat pengawasan perdagangan. Pemantauan transaksi tidak wajar akan ditingkatkan, aturan untuk mencegah manipulasi akan ditegakkan, dan komunikasi ke pasar akan dibuat lebih cepat dan jelas. Intinya, perlindungan investor dan stabilitas pasar jadi prioritas utama.

Di sisi lain, OJK ternyata sudah punya peta jalan yang cukup detail. Mereka menyiapkan delapan rencana aksi reformasi. Pertama, soal likuiditas. OJK akan mendorong kebijakan baru "free float" dengan menaikkan batas minimum kepemilikan publik menjadi 15 persen, tentu dengan masa transisi bagi emiten yang sudah terdaftar.

Kedua, transparansi. Ini akan diperkuat lewat kewajiban mengungkap "Ultimate Beneficial Ownership" (UBO). Tujuannya sederhana: memperjelas siapa pemilik manfaat akhir saham, biar kepercayaan investor naik.

Tak berhenti di situ, kualitas data kepemilikan saham juga akan ditingkatkan agar lebih rinci dan andal. Pendetailan tipe investor dinilai krusial untuk membangun pasar yang kredibel.

Langkah keempat adalah memperkuat tata kelola dengan mempersiapkan demutualisasi Bursa Efek Indonesia. Ini untuk meminimalkan benturan kepentingan dan memperkokoh struktur "governance".

OJK juga bakal lebih galak. Penegakan aturan dan pemberian sanksi akan dilakukan lebih tegas dan berkelanjutan, terutama untuk praktik manipulasi dan penyebaran informasi menyesatkan.

Tak ketinggalan, tata kelola emiten akan diperketat. Nantinya akan ada kewajiban pendidikan berkelanjutan bagi direksi dan komisaris, plus peningkatan kualitas laporan keuangan oleh akuntan publik bersertifikasi.

Rencana ketujuh adalah pendalaman pasar secara terintegrasi, mencakup sisi permintaan, penawaran, hingga infrastruktur. Tujuannya untuk meningkatkan efisiensi dan daya saing.

Terakhir, yang tak kalah penting: kolaborasi. OJK akan memperkuat sinergi antar semua pemangku kepentingan, mulai dari regulator, pemerintah, hingga pelaku industri. Semua ini demi memastikan reformasi pasar modal benar-benar jalan, bukan sekadar wacana.

Editor: Hendra Wijaya

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar